Menu

 

Perempuan Itu ...

 




Audy Jo


Rabu yang ditunggu akhirnya datang juga. Daftar sudah dari awal. Ternyata, sewaktu dicek, alias bayar, ternyata bus yang akan dinaiki penuh. Jadilah saya didaftarkan untuk naik mobil pribadi ketua komunitas kecil saya. 

Bersyukur juga karena dengan mobil pribadinya bisa cepat sampai ke tujuan, dan saya tidak terlalu lelah. Tetapi tetap saja kantuk tidak datang. Padahal dari rumah sudah menghayal nanti bisa tidur sebentar di mobil. Mata berat karena kemarin malam tidur lambat dan kurang lelap. Ananda cantik, sepertinya masuk angin. Mual dan muntah, juga agak demam. Dan kemarin malam jadwal komunitas kecil kami di gereja lebih lama dari biasanya.

Baca juga : Bersekutu

Luar biasa kalau para ibu berkumpul. Mulai dengan pujian, renungan. Setelah itu, ada game yang dimainkan oleh sepuluh grup ibu-ibu. Mulailah keseruan permainan itu. Ditambah musik yang menggoyang badan mulai diperdengarkan. Satu lagu tidak cukup! Butuh beberapa lagu untuk mengeluarkan keringat para ibu yang baru selesai makan. Luar biasa! Kalau para ibu sudah berkumpul, rasanya dunia hanya milik para ibu saja.

***

Kalau mau membedah kata "perempuan" atau "wanita", rasanya tidak akan cukup dua lembar kertas. Banyak yang perlu digali mengenai siapa dan bagaimana seorang perempuan menghadapi dunia ini.

Seorang perempuan diciptakan dari tulang rusuk lelaki yang dimaksudkan agar dia berada dalam lindungan seorang lelaki, karena kalau dilihat, tulang rusuk itu di bawah lengan seorang laki-laki. Saya asumsikan lengan itu bisa memeluk, melindungi seorang perempuan. Tetapi perempuan juga mendapat kehormatan sebagai penolong seorang laki-laki. Sebenarnya yang kuat itu seorang penolong atau yang ditolong, ya?

Baca juga : Ajakan Bersosialisasi

Saya jadi teringat suatu konten di Facebook. Ada perusahaan yang mencoba alat yang dipasang di bagian perut, tetapi khusus untuk para karyawan pria saja. Alat itu memiliki ketegangan yang disesuaikan dengan rasa sakit yang diderita para perempuan yang sedang datang haid. Ada kadar kesakitan yang bisa distel pada alat ukur kesakitan itu. Beberapa karyawan pria merasakan apa yang diderita para karyawan perempuan ketika mereka mendapat haid bulanan. Yang tadinya menganggap sepele ketika seorang perempuan meminta izin untuk tidak masuk karena ia sedang datang bulan, sekarang ia baru mengerti bahwa ketika sedang datang haid itu sangat menyakitkan.

Para karyawan jadi lebih respek kepada para teman mereka yang perempuan. Kalau mereka diminta menjadi perempuan, mereka tidak akan mau. Karena mereka sudah merasakan rasa sakit haid melalui alat yang diciptakan itu. Apalagi itu baru rasa sakit ketika mendapat haid, belum rasa sakit ketika harus melahirkan.

Luar biasa penemu alat untuk merasakan sakit haid. Saya saja tidak pernah membayangkan ada alat yang bisa mengukur rasa sakit tersebut.

Perempuan sebagai seorang ibu bisa merasakan apa yang diperlukan anak-anak ketika mereka sakit. Ini pernah saya alami sendiri. Ketika anak-anak sakit, biasanya tanggung jawab diberikan kepada saya, karena biasanya papanya anak-anak takut untuk memberikan obat yang pas untuk mereka. Apakah memang demikian? Ada ikatan batin antara para ibu dengan anaknya. Saya belum pernah menemukan penelitian mengenai hal ini.

Yang pasti, seorang perempuan harus tetap menurut kepada suami karena ia adalah kepala keluarga yang diberkati Tuhan. Dengan berbagai karakter, pasangan suami istri tetap harus saling menghargai, saling berkomunikasi dalam segala hal, agar pernikahan mereka tetap bisa langgeng.

Bagaimana dengan Anda? Pernikahan bagaimana yang diinginkan?


Love, Audy

Share:

0 Comments:

Posting Komentar




AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement