Menu

 

Perempuan yang Kuat

 




Audy Jo

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, hari bersejarah khususnya untuk para perempuan. 

Menghilangkan kesenjangan antara pria dan wanita. 

Rasanya saya lebih suka memakai kata perempuan saja ya .... Entah kok rasanya lebih enak didengar. Kata wanita kok seperti orang terlalu tinggi buat saya.

Walaupun Kartini sudah lama meninggal dan meninggalkan warisan untuk para perempuan, masih saja ada para perempuan yang belum merasakan perjuangan beliau.


***

Nindi begitu gembira ketika hari yang ditunggu-tunggu telah tiba di depan mata. Beberapa hari lagi dia akan melangsungkan pernikahannya dengan Beni. Setelah lama berpacaran akhirnya, melangkah menuju pelaminan.

Tidak membayangkan ketika sehari sebelumnya, kabar buruk datang dalam kehidupannya. Beni yang telah lama bekerja, tiba-tiba dapat surat pemberhentian kerja. Rasanya terpukul! Tetapi kehidupan harus terus berjalan.

Peristiwa ini hanya keluarga Beni saja yang tahu; keluarga Nindi tidak ada yang tahu. Mereka sibuk mempersiapkan hari besar anak mereka. Dan Nindi pun tidak mau menyusahkan keluarganya.

Pesta pernikahan berlangsung dengan semarak, tanpa ada sesuatu yang terjadi. Setelah pesta, barulah kehidupan pernikahan yang sebenarnya terjadi.

Masa-masa bulan madu pun berlalu, kembali lah mereka ke realita. Beni sudah berusaha mencari pekerjaan, tetapi belum ada yang mau menerimanya. Satu tahun, dua tahun, belum ada panggilan yang diterima Beni. Nindi, sebagai isterinya, merasa sedih. Walaupun semua pemasukan keluarga masih bisa dia handle, dia merasa bahwa Beni, sebagai kepala keluarga, tetap harus memberikan pemasukan.

Ada kekecewaan ketika melihat Beni yang hanya bisa duduk di atas sajadah saja. Rasanya Nindi cemburu dengan yang sering Beni ajak bicara di atas sajadah.

Ada rasa kesepian yang melanda Nindi, sehingga pikiran jelek pun sering datang ke benaknya. Apakah aku perlu seseorang yang lain yang bisa menghargai diriku?

***

Nindi tidak bisa menghargai apa yang sudah didapatkannya. Biarpun suaminya tidak memiliki pekerjaan… yang meskipun nantinya dia dapatkan, dia harus bisa mengurus keluarganya dengan baik. Bukan hanya lelaki yang bisa menjadi kepala keluarga, dalam hal ini memberikan pemasukan, tetapi sebagai perempuan yang bisa memberikan pemasukan, dia juga bisa menjadi penolong dalam keluarganya.

Baca juga : Insecure Dalam Diri

Rasanya cerita ini bisa menjadi salah satu contoh dari apa yang dikejar Kartini, kesetaraan. Dalam kehidupan rumah tangga, sebisa mungkin ada kerja sama antara pria dan perempuan dalam mengarungi biduk rumah tangga. Benar, kan? Saya sambil merenung apa yang saya tulis ini, persepsinya sama dengan yang lain?

Sekuatnya seorang perempuan, kadang memerlukan tangan kuat seorang laki-laki. Walaupun minta kesetaraan dalam hal lain, tetapi untuk raga, tetap seorang lelaki lebih kuat dari perempuan. Dalam kata lain, sebetulnya seorang perempuan itu adalah penolong. Setahu saya, sebagai penolong, mustinya lebih kuat dari seorang laki-laki. Bukan dalam hal raga ya. Ada beberapa yang bisa kita lihat, misalnya dalam pencapaian kinerja di kantor, seorang perempuan bisa mengalahkan kinerja lelaki.

Baca juga : Disiplinkan Diri Hai Kartini

Memasuki abad ke-20, masih ada saja yang belum mengerti perjuangan Ibu Kartini, apalagi di daerah pelosok yang kurang terjamah oleh media sosial. Semua masih mengikuti tradisi yang ada, di mana perempuan itu hanya bisa mengurus rumah tangga saja. 

Semoga dengan kemajuan zaman, semua perempuan akan menjadi lebih baik lagi dalam bertanggung jawab atas diri masing-masing.


Love, Audy



Share:

0 Comments:

Posting Komentar




AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement