Menu

 

Bully

 





Audy Jo


Anak gulali ... anak gulali! Teriakan itu membuat Widi merasa malu.


Setiap hari setelah mereka, teman sekolahnya, jajan gulali dari penjual gulali yang berada di depan sekolah, pasti mereka menatap wajahnya sambil menjilat permen dan tertawa di depan Widi. Sebal!

Widi merasa malu karena penjual yang berada di depan sekolahnya adalah bapaknya. Iya, bapak Widi penjual gulali. Rasanya ingin melarang bapak berjualan di depan sekolahnya, tetapi dagangan yang dijual memang buat anak-anak sepantaran Widi.

Dengan menahan malu dan kesal, Widi berbicara dengan ibunya, minta agar bapak jualan ditempat lain. Tetapi apa yang dikatakan ibunya Widi merasa malu. "Bapak kan tidak mencuri, Nak, tetapi dia mencari uang dengan halal untuk menghidupi kita berempat. Nurut kata ibu ya, Nak! Kalaupun ada yang mengejek mu, Cuex saja!" Akhirnya Widi mengikuti saran ibunya. Sampai dia lulus SMA ejekan itu tetap ada semua biaya sekolah hasil dari jualan gulali bapaknya.

Widi ingin melanjutkan kuliahnya, dan meminta ijin kepada kedua orang tuanya. Mereka memperbolehkan, tetapi dengan syarat, biaya Widi yang cari. Mulailah dia bekerja untuk membiayai kuliahnya. Widi baru merasakan betapa susahnya mencari uang untuk dirinya sendiri, betapa dia merasa bersyukur karena bapaknya telah membiayai mereka sekeluarga. Sungguh besar pengorbanan Bapaknya.

***

Karena perbedaan tidak membuat saya menjauhi teman-teman yang berbeda latar belakangnya. Mulai dari yang ayahnya penjual sepatu, ibunya single mother bekerja sebagai administrasi, orang tuanya guru, ada juga yang di belakang rumahnya berjualan singkong goreng. Duh membicarakan singkong membuat air liur saya menetes. Dengan sambal goreng yang disediakan panas-panas. Ah kangen masa itu!

Loh kok jadi membicarakan singkong goreng?! Hehehe.

Sewaktu saya pindah ke daerah terpencil, yang ada di pulau kecil ujung Kalimantan Utara (Dulu Timur). Saya tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi di sana.

Mulai dengan rumah dinas baru, yang besar. Dengan halaman yang luas banget. Antara tetangga samping bisa dibuat lapangan volly. Antar tetangga di belakang rumah bisa dibuat lapangan bola. Di depan rumah ada hutan yang masih belum semua dijamah, kadang keluar babi hutan, atau monyet yang ramai berteriakan. Iih ... apalagi ular yang masih berkeliaran. Saya tidak pernah membayangkan ular itu bisa ada di atas atap rumah. Sampai sekarang saya belum tahu, bagaimana ular itu bisa datang.

Dengan berbagai penampilan yang masih terbayang di benak, saya pun bisa berkenalan dengan teman baru, dengan karakter yang berbeda. 

Sebetulnya ada rasa malu ketika datang ke sekolah, karena mereka suka memanggil saya 'Anak Gabar Singh'. Julukan ini saya dapati ketika ada film India yang diputar di gedung pertemuan masyarakat. 

Karena tinggal di pulau kecil, semua orang pasti kenal satu dengan yang lain. Daerah ini hanya dibagi menurut desa saja, ada Nibung, Handasa dan lainnya. Saya lupa! Nah Ketika ada film yang datang, semua orang berbondong untuk nonton di gedung yang lumayan besar.

Film yang diputar, pemeran penjahat lelaki wajahnya mirip dengan ayah saya. Seorang penjahat yang mengerikan dengan wajah yang berewokan bernama Gabar Sing. Cerita yang ditampilkan pemerean itu menjadi musuh para jagoannya, karena dia suka mengganggu ketentraman penduduk. Dengan jambangnya yang seram memang sekilas mirip dengan ayah saya yang orang Ambon. Apalagi ketika beliau memanjangkan jambangnya ... wah mirip! Sejak itulah teman-teman di sekolah mulai memanggila saya Gabar Singh. Kalau saya lagi tidak senang, saya balik mengancam, "Awas saya kasih tahu Gabar Singh yaa! Biar besok datang ke sekolah!" Ancaman itu begitu saja keluar dari mulut saya. Begitulah baru mereka terdiam, takut kalau ancaman saya itu benar-benar terjadi.

Beruntunglah setelah saya lulus kelas enam SD, kami semua pindah ke Jakarta. Tentulah dengan cerita lain lagi. Dengan serial 'Anak Hutan Masuk Kota'.

Berjalannya waktu, saya bersyukur untuk kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menikmati kehidupan yang berbeda-beda, karena tempat tinggal yang selalu berbeda. Semua karena kerja keras ayah saya, sehingga saya menjadi seperti sekarang ini. Tiada kata menyesal ketika kami harus berpindah-pindah tempat. Karena pengalaman itu tidak datang dua kali dalam hidup kami sekeluarga.


Love, Audy

Ref: Antologi Memoar

Share:

0 Comments:

Posting Komentar




AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement