Teman Lama

 



Kenangan Indah Datang

Ceritadiri.com ~ Sekarang tinggal lelahnya!



    Mau nulis di blog momen ketemuan teman, kok malas! Lelah rasanya dan ngantuk. Maunya diam saja dan menikmati layar kecil bioskop di gawai.

    Besok sajalah! Subuh-subuh saya pikir.


    Perbedaan Umur


    Enggak menampik, setiap kegiatan pasti melelahkan. Dibandingkan umur 20, 30, 40 tahunan ada perbedaan dalam menghadapi kegiatan.

    Meskipun hanya duduk diam dan mengobrol. Tetapi menjaga postur tetap tegak diam di kursi makan berjam jam ada juga efeknya.

    Seperti subuh ini, kedua kaki mulai berulah menarik-narik.

    Kebiasaan bangun pagi badan langsung menggeliat sendiri. Kalau tidak ada masalah enggak sakit. 

    Bertambah umur kekuatan badan berbeda. Rasanya ingin kembali merasakan umur 20 tahunan. Pengin mengajak kedua remaja saya lebih energik.

    Kegiatan apa saja bisa saya lakukan. Naik gunung, nyetir mobil, atau ngebut naik motor ha-ha-ha.

    Umur 30 an juga masih bisa melakukan aktifitas dan 40 an juga. Walaupun sudah mulai menurun tetapi masih bisa. Apalagi kalau enggak ada sakit penyakit yang mengikuti. Ah, senangnya.


    Efek Sepatu, Baru Disadari

    Saya rasa karena kemaren ada kegiatan dan kalau engga salah memakai sepatu pantofel hitam kesukaan. Memang pas saya beli itu sudah tinggal satu-satunya dan sepatu yang kanan lebih besar. Barangkali sering dicoba konsumen. Bagian saya.yang kena tipu. Pas kejadian saya sedang kena syarat kejepit, kaki kanan saya suka sakit. Saya pikir ya sudah cocok saja.

    Eh-eh! Ko jadi ngomongin sepatu!

    Itu sepatu dipakai kemaren sewaktu ketemuan sama teman lama. 

    Pulang pergi naik motor. Setelah bangun tidur baru saya sadari. Ternyata hasil pakai sepatu itu kaki saya kumat.  

    Pernah kejadian juga waktu ke sekolah Ananda ambil raport. 

    Pulangnya jalan kaki, sambil menahan kedua sepatu saya. Sedikit longgar dan licin. Saya rasa itu yang terjadi.  Dan benar saja keesokan subuh kaki kejang.

    Baca juga : Berdandan dengan Tepat

    Ah, masak enggak mau dipake lagi itu sepatu? Sayang! Enggak kelihatan juga perbedaannya. Lagian inj sepatu satu-satunya berwarna hitam dan flat.

    Berharap dapat sepatu baru deh! Eh mau beliin? Boleh saja. Ukuran 38 yaaa! Lol!


    Persiapan Perempuan

    Saya rasa hampir semua perempuan kalau ada acara mempersiapkan diri dengan baik.

    Baju, sepatu, rambut, asesoris dipersiapkan. 

    Hah, enggak, Sist? Beneran? Tetapi pakai baju kan? Enggak mungkin  datang telanjang! Pilih bajunya juga enggak mungkin yang robek. Apalagi teman muslim, harus memantaskan kerudungnya. 

    Psst perempuan juga milih lipstiknya yang cocok hehehe. Kecuali enggak suka dandan. Minimal pakai deodoran itu juga harus. 

    Kayaknya dari agama apapun setiap perempuan harus bersih dan wangi.

    Beruntung di rumah, Hubby suka kasih masukan. Meskipun kadang bentrokan seleranya, ha-ha-ha. Tetapi karena sudah biasa, kalau enggak minta masukan kayaknya kurang afdol.

    Seperti kemaren pagi sebelum berangkat. Terlupakan juga kalau ada acara ketemuan teman. Malah bikin acara sama keluarga pergi ke gereja. Eaaa!

    "Pakai baju apa ya, Pa?" tanya saya seperti biasa setiap ada acara.

    Mulailah saya membongkar lemari satu, dan satu lagi, lemari satu lagi. Iih! Pakai ini? Pakai itu? Atau ini? Padanannya apa? Celana panjang? Atasan? Warna apa? Nanti sepatunya apa? Eeeh!  Banyak banget kalau saya pikirkan kembali hari ini. Ampun! Padahal cuma ketemu teman.

    Ih, mama mau ketemu teman kok kayak mau ketemu pacar kata suami saya ha-ha-ha.

    Begitu deh, sifat saya. Kalau mau bertemu seseorang siapa saja. Penampilan harus dipikirkan matang-matang. Suasana tempat juga dipikirkan. Resmi, atau santai.

    Saya pikir saya harus menghormati siapa saja yang mengundang. Enggak mungkin saya pakai baju compang- camping. 

    Baca juga : Mode Pakaian Menentukkan Pribadi Seseorang.

     

    Seperti Detektif 

    "Mau naik gocar atau mau dianter?" tanya Hubby.

    "Anter saja deh!" jawab saya. Sudah terlambat ini saya pikir. Karena janjian pukul 11.00.

    Setiap hari Minggu giliran saya masak. Mbak yang biasa bantu di rumah enggak masuk.


    Baca juga : Bom Waktu Setahun Sekali


    Sebetulnya malas kalau mau ada acara terus main di dapur. Sedikit lelah sebetulnya. Tetapi sudahlah harus masak buat keluarga. Bikin menu yang gampang saja.

    Sampai di tempat janjian. Mana ya wajah teman? Saya rasa semua sudah berubah.

    Setiap perempuan yang saya lihat, "Nah, itu pasti teman saya!" Tetapi dilihat lagi wajahnya kok enggak ada miripnya. Bukan berarti.

    Seperti detektif saja ha-ha-ha.

    Hari ini ngumpulnya di Resto Sultan Agung. Katanya sih baru buka bulan Desember tahun lalu. Jadi masih soft Opening.

    Lokasinya hampir dekat sekolah Katholik yang terkenal. Sedikit menggangu lalu lintas sih kalau saya bilang. Parkiran kurang besar. Parkir motor memakai bahu jalan di sisi kiri jalan. Karena kalau bahu jalan di depan rumah tinggal sehingga bisa mengganggu penghuni rumah.

    Rame banget hari ini. Rasanya Hari Minggu di Bandung itu padat banget!

    Di sisi kiri depan Resto ada panggung dan banyak pengunjung sedang duduk. Tadinya enggak tahu untuk apa, ternyata di sini disediakan untuk pengunjung yang bel dapat antrian untuk makan di dalam. 

    Oh, reservasi!

    Oh, itu rasanya teman saya! Pakai kerudung merah.



    Saya perhatikan dia jalan ke meja penerima tamu. Rupanya baru mau reservasi.

    Ah, tetapi benarkah itu teman saya?

    Iseng nanya di grup. Ternyata benar. Saya di belakangmu di tempat antrian. Akhirnya.


    Bertemu Kembali

    Biasalah cipika cipiki, wah sudah lama enggak ketemu.

    Kemudian datang dua orang teman. Wajah tidak berubah. 

    Senang juga dengan perjalan hidup mereka. Apalagi pencapaian pribadi masing-masing. 

    Sambil menunggu antrian reservasi. Cerita mengalir dari kami berempat. Sambil lanjut duduk di dalam. Sayang dapat tempat yang kurang pas. Tetapi apa boleh buat. Nikmati saja.


    Foto





    Setelah pesan makanan, datang lagi satu teman. Seperti biasa ciri khas perempuan itu. Suka merendah. Apalagi kalau sudah menyangkut penampilan pastilah banyak excuse-nya. Ah, enggak masalah. Samimawon!

    Seperti biasa banyak cerita yang dilontarkan. Sambil menunggu teman terakhir yang sudah janjian. 

    Akhirnya lengkap sudah.


    Foto






    'nd

    Setelah memasuki masa senja, ternyata kembali lagi seperti mula-mula masuk sekolah. Mencari teman.

    Anak-anak sudah besar, kegiatan mulai menurun. Nah harus mulai digiatkan lagi aktifitas diri. Supaya tetap bersemangat.


    Baca juga : Hobby Penyemangat


    Duduk termenung saja di rumah kadang bikin bete juga.

    Kalau sudah bergerak  segala kesusahan terlupakan.

    Semoga semua sehat.



    Love, Audy 

    Share:

    0 Comments:

    Posting Komentar

    Buletin My World

    Indonesia Website Awards

    Cuap-cuap Akoe - Cerita Diri

    Cuap-cuap Akoe - Cerita Diri
    Kehidupan pribadi yang penuh cerita, baik suka maupun duka. Rasa marah atau senang yang perlu ditulis. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Berbenah diri selalu.

    Isi Email - Untuk Cerita Terbaru via Email

    Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

    Audy Jo

    Audy Jo
    Moms like to write, all about life, family and others related to life. Mentor Online Class for Women.

    Ebook Audy Jo


    Klik Gambar Buku untuk Beli
    Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

    AJPena Jasa

    AJPena Jasa
    Buat Ebook Dan Blog