Hadiah Perpisahan Sekolah


Memasuki bulan juni biasanya mulai banyak pekerjaan yang dilakukan oleh saya sebagai mama dari dua orang anak, biasanya harus mulai memperhatikan grup ibu-ibu perkumpulan di sekolah.

Grup dengan sekolah, khususnya dengan wali kelas juga harus lebih intens diperhatikan.

Baca juga : Renungan Hari Ini 

Biasaaa! Menunggu pengumuman kenaikan kelas. 

Biasanya sebelum pengambilan raport ada beberapa yang perlu dibenahi. Misalnya pembayaran uang pembangunan, atau uang kegiatan yang tertunda. Demikan juga uang sekolah bulanan yang tertunggak. Ah, banyak pritilan yang harus diselesaikan secepatnya. Semua harus beres sebelum hari H. Kalau tidak biasanya raport tidak diberikan.


Harus Ada Pos Pembukuan Yang Harus Dibuat

Sebagai orang tua kadang sedikit miris. Setiap pembagian rapot ada rasa seperti dikejar-kejar. Apalagi psikis sang anak kadang menjadi pertaruhannya. Kadangkalau bertanya, "Mama sudah bayarkan uang sekolah? Kalau enggak bayar entar enggak dapat rapot." Mereka juga jadi tahu peraturan itu, dan ada kekuatiran kalau orang tua mereka belum menyelesaikan kriteria pengambilan laporan hasil belajar mereka.

Tetapi tergantung sekolahnya juga, kadang ada yang luwes kok. Seperti sekolah anak saya yang pertama dulu. Kalau enggak salah ingat, waktu itu masih menyicil uang masuk yang belasan juta. Sebetulnya sudah ada posnya. Ya begitulah kalau posnya dipakai buat yang lain, jadi berantakakan deh. hehehe walaupun sekarang masih juga enggak bener. berjuang deh.

Seperti biasa dan sudah biasa deh, kalau ikut grup emak-emak, mulai membuat rencana memberikan hadiah perpisahan untuk wali kelas. 


Baca juga : Memberi Hadiah pada Guru, Bolehkah?


Pola Berbicara Yang Enak kalau Soal Uang

Sewaktu masih tinggal di tempat tinggal yang lama,  kebetulan saya dipercaya para emak-emak di kelas yang sama untuk mengurus hadiah perpishan. Mulai dari mendata dan memberikan masukan hadiah apa yang mau diberikan. Juga besaran biaya yang emak-emak harus keluarkan. 

Paling asyik tuh kalau emaknya solid sering ngumpul bareng. Sudah pasti enak kalau bicara soal uang.

Karena kebetulan hahaha kebetulan terus, saya yang paling dituakan. Jadi enak kalau sudah sering ngumpul bareng sudah ngerti nada bicara, dibanding ngobrol soal uang tulis di chat aplikasi handphone.

Duh kadang suka minder sama yang muda. Yaaa, begitulah kalau baru dapat anak, waktu umur sudah tidak muda lagi. Tetapi tetap kok berjiwa muda.


Peraturan Baru Yang Harus Dipatuhi

Sebetulnya sih engga masalah mau memberikan hadiah perpisahan, tetapi tergantung situasi sekolah juga. 

Awalnya tidak ada masalah tetapi dengan adanya pergantian kepala sekolah dan pengurus dalam yayasan sekolah, ada kebijaksanaan baru yang tidak boleh memberikan barang dalam bentuk apapun kepada guru-guru di sekolah. 

Hal ini pernah saya dan emak-emak grup lain alami. Biasanya setiap tahun kami urunan untuk memberikan hadiah perpisahan, tetapi keluar peraturan baru bahwa kami para emak tidak bisa lagi memberikan hadiah perpisahan.

Hal ini kami ketahui ketika akan memberikan hadiah perpisahan ke wali kelas anak-anak. Para emak sudah membeli kado perpisahan. 

Waktu itu, orang tua bersepakat memberikan emas. Di masa pandemi ini  rasanya emas menjadi barang berharga untuk di segala situasi. Ternyata, yang mau kami beri hadiah menolak dengan tegas, bahwa dia tidak menerima, dan  karena peraturan sekolah melarang untuk menerima hadiah betuk apapun juga. 


Keluarkan Jurus Rayuan

Rayuan ala emak-emak pun dilakukan. sampai kami para emak pun akan datang kerumah wali kelas untuk memberikah hadiah langsung, tanpa diketahui sekolah. 

Sebagai orang tua kami sangat bersyukur mendapatkan wali kelas yang sangat perhatian terhadap anak-anak kami. Apalagi, khususnya untuk anak saya, yang kadang suka muntah di sekolah. Dia butuh teman yang mengerti, nah wali kelas ini yang memang masih muda, bisa membimbing anak saya di sekolah. Apalagi kadang melihat cara interaksi pembicaraan mereka berdua, penuh kelucuan.

Akhirnya dengan berat hati para emak-emak di sekolah berhenti merayunya. Bagian saya sebagai yang ditugaskan, harus membereskan kembali barang yang sudah saya beli. Ya iya, jual lagi deh apa yang sudah dibeli. Hehehe lumayan bikin panas kepala.


Beda Sekolah Beda Peraturan

Di sekolah yang baru sekarang sistem hadiah diperbolehkan. 

Awalnya sudah tidak ada pikiran lagi untuk memberikan hadiah. Jadi ketika ada informasi pengumpulan uang saya sedikit terkejut. Loh! Bukannya sudah tidak ada lagi pemberian hadiah untuk perpisahan? 

Sedikit ragu-ragu, kerena pernah mengalami kejadian ditolak. Akhirnya, daripada salah, saya langsung bertanya ke wali kelas. 

Bolehkah pemberian hadiah di sekolah? Jawabannya boleh, enggak ada larangan. Kalau Ibu tidak berkenan tidak usah, enggak apa-apa.

Oh! Saya rasa dari jawaban itu sepertinya menganggap saya "malas" memberikan hadiah perpisahan hehehe. 

Saya jelaskan duduk persoalannya, bahwa di sekolah lama, saya ditolak sewaktu akan  memberikan hadiah. 

Membereskan keuangan membuat saya tekor sedikit hehehe. 

Tahukan moms, kalau beli emas, pas harga tinggi pas jual harga turun, jadi malasss kalau sudah masuk ke urusan beginian pasti ada selisih yang terjadi. 

Jadi setiap ada urunan untuk memberikan hadiah, saya suka berpikir lebih lama, mempertimbangkan baik, buruk, atau besaran yang mau diberikan

Setelah ada pemberitahuan tersebut, akhirnya saya mau memberikan uang urunan untuk hadiah perpisahan. 

Ada pilihan besaran uang yang dapat diberikan. 

Hadiah perpisahan itu tidak hanya untuk satu orang tetapi beberapa guru yang akan diberikan.

Baca juga : Pilihan Investasi Yang Berbeda 


'nd

Sebagai mama kadang perlu juga sih bergabung di komunitas para emak-emak di sekolah. Dengan harapan bisa mengakrabkan diri. 

Tetapi untuk sekolah yang saat ini saya ikuti, belum ada pergerakan yang signifikan dari para emak di grup. Hanya terlihat nama peserta saja yang ada di grup.

Bagaimana dengan grup para emak? Masih semangatkah?

Baca juga :  Pembelajaran Tatap Muka Terbatas


Love, Audy