Advertisement

Main Ad

Piring Warisan

 






Mendengar kalimat piring sudah pasti identik dengan makan. 
Menurutmu?

Enggak pernah kepikirkan sama kata "piring" padahal setiap hari melihat bentuknya. Berbagai macam rupanyanya mejeng di lemari. Ada khusus buat makan. Ada juga untuk alas makanan sebagai tempat makanan setiap ada acara. Sepele sih tapi semua berarti.



Sebelum muncul piring, biasanya alat yang dipakai untuk makan berupa daun. Biasanya daun pisang atau daun yang berbentuk lebih lebar seperti daun jati. 
Kebiasaan memakai alas makan seperti daun jati masih dilakukan sampai sekarang. Khususnya kalau pas lagi liburan ke Cirebon kota udang. Ciri khas cara makan di atas daun jati biasanya dengan menu nasi jamblang.
Ah jadi pengen nih nasi jamblang. Dekat sini juga ada yang jual nasi  kota Cirebon.

Proses pembuatan piring makan diketemukan oleh orang Cina 600 Masehi yang lalu. Pada awalnya diproduksi dari bahan alumunium. Pada tahun 1708 ketika Potter dari Jerman di Meissen menemukan proses pembuatan piring oleh orang Cina, mereka tertarik mengabungkan keramik Eropa dalam membuat piring.

Bukan ayahnya Harry Potter yaa. Hihihi.



Sejak ditemukan piring porselain, banyak pemburu keramik ini yang mulai mengumpulkan sebagai koleksi. Tidak hanya sebagai piring tapi juga sebagai souvenir, plakat dan media sosial.  Semakin bertambah lama disimpan semakin mahal harga yang ditawarkan untuk sebuah piring antik.

Kalau dari sisi seorang Bapak, arti kata "piring" mengandung maksud yang lain. Mencari uang untuk memenuhi nafkah keluarga.

Kadang kata "piring" kalau disambung dengan "terbang" konotasi kalimatnya berubah. Piring terbang bisa juga diartikan  sebuah objek yang melayang di udara  atau dalam arti sebenarnya piring itu dilemparkan. 

Setiap rumah tangga sudah pasti mengerti arti kalimat "piring terbang" yang dimaksud. Konotasi kalimat biasanya ke arah negatif di dalam hubungan antar suami istri.

Hehehe ..., pernahkah ada "piring terbang" di rumahmu?



Love, Audy

Post a Comment

0 Comments