Advertisement

Main Ad

Sungai Kenangan

 



Foto oleh Tom Fisk dari Pexels


Iihhh ...!

"Apa itu yang ngambang! Berwarna kuning!"

Melihat "sesuatu" yang tidak semestinya ada di sungai.

Beberapa gedhek tempat mandi yang berada di pinggiran sungai. Tidak pernah berpikir cara mandi atau buang hajat di daerah pedalaman seperti ini.

Pengalaman yang masih membekas sampai sekarang. Bagimana sebuah sungai menjadi tempat utama semua orang untuk melakukan kegiatannya. Tentu yang terutama kebutuhan air untuk dipakai.

Walaupun begitu yang namanya masih kanak-kanak menikmati saja kegiatan yang dilakukan mengikuti gaya hidup yang terjadi di pedalaman ini.

Meloncat kegirangan merasakan air sungai yang mengalir, tanpa memperdulikan "sesuatu itu" yang sudah lewat pergi dengan aliran sungai.

Memori Sungai Kayan tiba-tiba teringat kembali karena dapat Notifikasi "Merayakan Hari Sungai Nasional" yang jatuh tanggal 27 July.

Sungai Kayan adalah sebuah sungai yang mengalir di pulau Kalimantan, dalam wilayah 
provinsi Kalimantan Utara, Indonesia, sekitar 1600 km di timur laut ibu kota Jakarta. 
Anak sungainya termasuk Sungai Bahau. Wikipedia

Pertama kali naik longboat di Sungai Kayan tahun 1979 masa itu belum banyak pilihan untuk ke Kabupaten Bulungan. Atau memang karena masih kecil belum bisa berpikir pilihan apa yang harus diambil. Yang penting keputusan Orang yang lebih tua atau yang pada saat itu Sensei bela diri harus dituruti.

Berangkat dari Pulau Bunyu menaiki perahu cepat menuju Tarakan terus menuju Bulungan melalui Sungai Kayan.






Menyusuri Sungai Kayan sungguh suatu pengalaman yang indah. Memandang kiri kanan ekosistem hutan bakau yang berkelok mengikuti aliran sungai. Sedikit mencekam karena suasana yang suram. Apalagi dengan sampan yang kecil. 

Merasakan dinginnya air sungai dipinggiran longboat yang sedang melaju. 

Pada saat perjalanan, begitu mengagumi ciptaan Tuhan. Air sungai begitu jernih. Berharap untuk sampai di tempat tujuan air sungai sama. Tetapi ternyata ... sungai tidak seindah.yang dibayangkan.



Foto oleh Magda Ehlers dari Pexels


Foto oleh Rola Al Homsi dari Pexels

Memasuki pemukiman penduduk sungai menjadi lebih keruh karena banyak kegiatan yang dilakukan di pinggiran sungai. Apalagi gedhek atau sekat  yang terbuat dari bambu tempat mandi terletak dipinggiran sungai. Sudah terbayangkan cara pemakainya. Untuk saat itu, hal tersebut wajar saja. Barangkali belum ada ide untuk membuat saluran air kedalam rumah untuk kamar mandi dan dapur.

Harapan seorang anak di tahun 1979 semoga dengan bertambahnya waktu dan pikiran yang maju keadaan Sungai Kayan akan berubah.





Love, Audy 






Reff :

Petualangan Menantang di  Sungai  Kayan

Post a Comment

0 Comments