Menu

 

Memoar One





Audy Jo ~

Memaksakan diri menulis, setiap pagi.

Kalau pas bangun tidur rasanya berat, musti lihat dulu gambar photo, berselancar di medsos lain. Sampai tiba-tiba datang ide itu.

Kalau enggak dapat ya ditunda. Jadi ada bolong di blognya. Nah, "aku juga manusia." Keluar alasan standarnya hehehe

***

Kemaren adik yang bungsu berulang tahun. Walaupun sudah tidak muda lagi tetap saya panggil adik bungsu hehehe.

Dulu manja banget loh. Iyalah, bedanya jauh 9 tahun. Jadi waktu bayi saya yang urus. Biasa saya babysitter untuk 4 adik saya.

Jadi kalau orang tua pergi ke pesta kami berlima di kurung dalam rumah.


Baca juga : Mengetahui Latar Belakang Nama Keluarga 


Kami berlima besar mulai dari Prabumulih, Sumatera Selatan. Jadi yang namanya empek-empek itu sudah "mendarah daging" hehehe. Hapal deh rasa yang enak itu gimana. Apalagi "cukonya".


Masih berempat sebelum datang si bungsu


Kalau dulu sih hayo saja cuko itu. Sekarang tahan dulu rasanya paling icip sedikit. Sudah enggak kuat lambungnya.

Besar di Prabumulih dengan kenakalannya. Karena saya disebut "kepala geng" jadi empat adik saya suka mengikuti kegiatan saya.

Berantem dengan anak tetangga, lemparan batu serasa bermain perang-perangan.


 Baca juga :   Oma 70th Birthday


Bermain di got samping rumah. Kebetulan rumah di Prabumulih halamannya luas. Halaman belakang bisa berkebun, begitu juga di depan. Kebiasaan tinggal di daerah perumahannya seperti itu.

Nah, suatu saat mobil ayahanda mogok. Setelah dibenerin ... nyala tuh! Kebiasaan, naik langsung ke belakangnya ... mobil land rover bagian belakang terbuka( seperti di photo) ... tiba-tiba mobil mundur, adik saya yang pertama jatuh ke bawah mobil ... tangan kiri terlindas. Tanda lahirnya berupa seperti elips terhapus sebahagian kena batu kerikil. Omg nulis sampai merinding terbayangkan kesakitan waktu itu.


Photo Mobil kenangan


Sampai seumur hidup ayahanda merasa bersalah atas kejadian itu. Ahh tutup dah ceritanya.

Dari Prabumulih, kami pindah ke P. Bunyu, Kalimantan Timur dulu disebutnya. Sekarang Kalimantan Utara deh kalau ga salah.

Pulau terpencil di ujung Kalimantan. Bahasa yang dipakai campuran, Indonesia dan Malaysia. Karena Channel Televisi lebih kuat sinyal dari Negeri Tetangga itu.


Baca deh ceritaku

Si Tomboi Odie


Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur walaupun berbeda tempat tapi bahasanya hampir terpengaruh dengan bahasa melayu.


Di Pulau Bunyu, Kalimantan Timur



Tetap ketemu banyak menu ikan. Sayuran? Di Kalimantan jarang ada sayuran, karena harus menunggu pasokan dari Surabaya melalui cargo udara. Ya sudah jadi anak pantai saja, main dengan ikan dan laut. 


Bersambung ....

Memoar Two



Love, Audy


Cuko=cuka bumbu cair makan empek-empek

Share:

0 Comments:

Posting Komentar

AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement