Menu

 

Kesetaraan

 




Isteri Bekerja, Suami di Rumah


Ceritadiri.com ~ Rasanya biasa saja. Dibolak balik juga sama saja.



    Beda Dua Generasi

    Bagaimana menurutmu?

    Kalau zaman dulu sih memang masih kurang diterima. Bukan tabu ya! Kalau memang keadaannya begitu enggak apa juga.

    Saya melihat dari dua sudut. Kacamata generasi lama dan generasi baru.


    Baca juga: Insecure Dalam Diri


    Generasi lama yang masih kental dengan adat istiadatnya,  ada peraturan yang tidak usah disebut dalam masyarakat bahwa standar dalam kehidupan suami isteri tuh lelaki harus bekerja dan perempuan mengurus dapur.

    Maafkan bila saya salah menjabarkan. Ini semua hanya dari pendapat saya. Boleh yang lain punya pendapat berbeda. Ini  pandangan saya sejak kecil.


    Perempuan Kuat

    Dengan adanya surat RA Kartini yang menciptakan emansipasi perempuan, saya rasa banyak membantu para perempuan menjadi lebih baik.


    Baca juga: Pemakaian Kata Perempuan atau Wanita


    Kembali lagi kodrat perempuan itu sebagai ibu tidak bisa dielakkan. Tuhan sudah menciptakan rahim dan lelaki tidak.

    Makanya dalam Alkitab yang saya baca, perempuan itu penolong yang diciptakan dari tulang rusuk lelaki. Tulang rusuk itu berada di bawah jantung. Bisa diartikan perempuan itu belahan jiwa yang perlu dilindungi. 

    Kenapa disebut penolong? Karena dalam segala hal perempuan itu bisa melakukan segala sesuatu. Dalam hal ini bukan dalam arti pertandingan kekuatan ya. Kecuali ada perempuan yang memang sudah perkasa dari dulunya.

    Tetapi dalam perjalanan kehidupan seorang perempuan yang saya ketahui, mereka lebih kuat dalam mengarungi kehidupan. Misalnya ketika ditinggal "pergi" suami, mereka bisa hidup sendiri. Sebaliknya, kalau istri yang "pergi", saya rasa dalam hitungan hari atau bulan, sudah ada pengganti yang baru.

    Kenapa begitu?

    Karena dalam keseharian semua diurus oleh perempuan, jadi sudah menjadi kebiasaan. seorang lelaki itu diurus semua keperluannya.


    Apa Perlu Nama?

    Nama saya Audrey, bukan Nyonya Tommy! Begitu biasanya sopan santun dalam lingkungan keluarga. Misalnya bertemu orang baru, mengikuti arisan dimana saja. Atau di tempat yang memerlukan nama diri.


    Baca juga: Busana Nasional Perempuan Indonesia


    Coba bayangkan,  orang tua sudah memberikan nama cantik untuk anak perempuannya. Tetapi kadang yang terjadi ketika sudah menikah, namanya dipanggil sesuai nama suaminya. 

    Saya rasa setelah anak perempuan lahir tidak usah diberi nama. Karena setelah menikah nanti akan dipanggil dengan Nyonya anu, atau Nyonya ani.


    Perubahan Zaman

    Soal kesetaraan gender sekarang tidak terlalu dipedulikan. Seperti lelaki kalaua mau masak tidak dilarang. Malah bamyak sekarang koki lelaki yang lebih terkenal. Dengan kekuatannya urusan angkat wajan, panci berat menjadi mudah.

    Nah, di sini ada kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan. Diperbolehkan memasak.


    Baca juga : Tanpa Komando Saat Suami Istri Masak


    Jadi apa yang dilakukan perempuan, lelaki juga bisa. Dan begitu sebaliknya. Kecuali dalam hal hamil, dan menyusui. Itu sudah kodrat perempuan yang enggak bisa digantikan.


    Berbagai Peran di Masyarakat

    Kalau bisa mengapa tidak! Begitu kira-kira setiap jawaban dari pertanyaan anak-anak yang mencari identitas diri mereka. Khususnya ketika mereka memilih lapangan pekerjaan.

    Mulai dari seorang Insinyur, Dokter dan lainnya. Semua gender bisa melakukannya.

    Lapangan pekerjaan yang biasanya banyak dilakukan lelaki, sekarang para perempuan juga bisa. 

    Semua kembali lagi dengan pertolongan RA. Kartini sehingga para perempuan bisa bersekolah sampai setinggi-tingginya.

    Begitu pula halnya urusan dapur, para lelaki juga tidak kalah pintarnya dalam mengolah masakan. Menciptakan menu yang luar biasa. Jadi sudah bukan hal yang luar biasa ketika seorang lelaki masak di dapur.


    'nd

    Kembali lagi ke persetujuan mula-mula ketika memulai pernikahan. Peraturan apa yang ada di dalam keluarga.

    Setinggi-tingginya seorang perempuan bersekolah, tetap saja kodrat sebagai ibu mengiringnya lebih banyak terjun dalam kehidupan rumah tangga.

    Intuisi perasaan seorang ibu lebih kental dari perasaan seorang ayah. Setiap anak sakit, pasti larinya ke ibu. Karena ibu tahu obat apa yang tepat.

    Semua terjadi ketika bayi ada dalam rahim. Ada ikatan emosi yang terjadi antara bayi dan ibu.

    Bagaimana, benarkan?


    Love, Audy

    Share:

    0 Comments:

    Posting Komentar




    AJPena Online Class

    Buletin My World

    Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

    Ebook Audy Jo







    Klik Gambar Buku untuk Beli
    Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

    Advertisement