Ritual Sarapan Pagi





Pentingnya Sarapan di Pagi Hari 

Baca juga : The Breakfast Ritual


 Pada suatu ketika, di sebuah kota yang ramai, hiduplah seorang wanita muda bernama Maya.  Maya selalu terburu-buru—bergegas mengejar kereta, mengatur tenggat waktu kerja, dan nyaris tidak berhenti untuk mengambil napas.  Sarapan hanyalah sebuah renungan, sebuah ketidaknyamanan belaka.  Dia akan membeli granola bar atau kopi saat keluar, percaya bahwa melewatkan sarapan akan menghemat waktunya yang berharga.

 Namun suatu hari, semuanya berubah.  Maya bangun terlambat, jam wekernya tidak berfungsi.  Dia berlari keluar dari apartemennya, jantungnya berdebar kencang, dan ketinggalan kereta.  Frustrasi menggerogoti dirinya saat dia berdiri di peron, menunggu yang berikutnya.  Saat itulah dia melihat seorang lelaki tua duduk di bangku, menikmati semangkuk oatmeal hangat.

 Matanya berkerut karena kerutan, tapi ada percikan kepuasan.  Maya mendekatinya, penasaran.  “Mengapa kamu meluangkan waktu untuk sarapan?”  dia bertanya.

 Orang tua itu tersenyum.  "Sayangku, sarapan adalah jangkar hariku. Ini bukan hanya tentang mengisi perutku; ini tentang memberi nutrisi pada jiwaku. Saat aku seusiamu, aku juga bergegas melewati pagi hari. Tapi kemudian kehidupan memberiku pelajaran berharga."

 Dia mencondongkan tubuh, suaranya lembut.  "Sarapan itu seperti menanam benih. Sarapan menentukan suasana sepanjang hari. Jika Anda melewatkannya, Anda menyangkal kesempatan untuk berkembang."

 Maya merenungkan kata-katanya.  Dia duduk di sampingnya, dan dia melanjutkan ceritanya.

 “Bayangkan tubuh Anda seperti taman,” katanya.  “Sarapan adalah embun pagi—makanan lembut yang membangunkan setiap sel. Sarapan memberi bahan bakar pada otak Anda, mempertajam fokus Anda, dan memberi Anda kekuatan untuk menghadapi tantangan.”

 Maya melirik cangkir kopinya, tiba-tiba merasakan kehampaan.  "Tapi aku selalu terburu-buru," akunya.

 Orang tua itu terkekeh.  "Ah, waktu. Kita semua mengejarnya, sayangku. Tapi apa gunanya jika kita mengabaikan hal-hal mendasar? Sarapan bukanlah sebuah kemewahan; itu suatu keharusan. Ini adalah simfoni yang dimainkan sebelum kekacauan hari itu dimulai."

 Dia menunjuk ke arah penumpang yang lewat.  "Lihatlah mereka—jiwa-jiwa yang tergesa-gesa dengan perut setengah kosong. Mereka kehilangan kesenangan sederhana dalam hidup—rasa roti panggang hangat, manisnya buah segar. Sarapan bukan hanya tentang nutrisi; ini tentang kewaspadaan."

 Maya mendengarkan, hatinya melembut.  Dia bersumpah untuk mengubah cara hidupnya.  Keesokan paginya, dia bangun pagi-pagi, menyeduh secangkir teh, dan duduk untuk makan.  Kehangatan makanan menyebar ke seluruh tubuhnya, menenangkan pikirannya yang panik.  Dia merasa membumi, siap menghadapi dunia.

 Maka Maya pun melakukan ritual sarapan.  Dia menikmati setiap gigitan, bersyukur atas saat-saat tenang sebelum badai.  Ketika hari berganti minggu, dia menyadari adanya perubahan—tingkat energinya melonjak, kreativitasnya berkembang, dan bahkan rekan-rekannya mengomentari ketenangan barunya.

 Orang tua itu benar.  Sarapan bukan hanya tentang rezeki;  ini tentang menghormati ritme kehidupan.  Maya belajar bahwa waktu yang dihabiskan untuk memberi makan dirinya sendiri tidak terbuang sia-sia;  itu adalah investasi dalam ketahanan.

 Oleh karena itu, para pembaca yang budiman, marilah kita mengingat pelajaran Maya: Sarapan bukan sekedar makan;  ini adalah perayaan harian—pengingat bahwa kita masih hidup, dan setiap pagi adalah kesempatan untuk berkembang.


*Catatan: Kebijaksanaan orang tua adalah ciptaan fiktif, namun pentingnya sarapan sangat nyata.  Luangkan waktu sejenak setiap pagi untuk memberi nutrisi pada diri Anda—ini adalah hadiah yang Anda berikan kepada tubuh dan jiwa Anda.* 🌞🍳🥐





Sumber Cerita AIBing


Share:

0 Comments:

Posting Komentar

AJPena Online Class

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement