Menu

 

Pilihan Terbaik

 





Banting Setir Ganti Profesi. Sudah Berani Ambil Resiko? 





Zaman bekerja sudah lewat bertahun-tahun lalu, tetapi kalau mau cerita flasback boleh lah yaaa ....

    Latar belakang pendidikan sekretaris manajemen, sudah pasti pilihan bidang pekerjaannya sekretaris atau administrasi.

    Beberapa tahun menjadi seorang admin dan keuangan tidak ada yang berubah secara signifikan, karena semua bidang yang dijalani masih ada hubungannya dengan mata kuliah yang didapat.

    Tidak Ada yang Ideal

    Rasanya setiap orang yang terjun pertama kali dalam mencari pekerjaan tidak ada yang ideal. Sekolah sekretaris langsung menjadi seorang sekretaris adalah suatu keberuntungan. Saya tidak mendapat keberuntungan itu. Awal bekerja mulai dari tingkat terendah dulu dalam hirarki ilmu administrasi. 

    Mengumpulkan pengalaman, perlahan menambah kemampuan dalam bidang yang masih berhubungan dengan mata kuliah sebagai sekretaris. Menjadi seorang sekretaris rasanya sudah cukup, sudah memenuhi pencapaian sesuai dengan mata kuliah yang diambil.

    Dalam perjalanannya sebagai seorang perempuan ada masa memutuskan untuk menikah. Sesudah menikah mau mempunyai keturunan. Ternyata track yang dijalani tidak sesuai  dengan kenyataan yang ada. Keturunan belum didapat dan saya tidak ada pekerjaan. 
    Untuk memulai lagi saya merasa sudah terlambat, sekretaris muda sudah banyak di pasaran. Merasa minder? Tentulah ada.

    Tidak ada yang mendukung untuk mengambil pekerjaan yang menantang. Hanya mendukung ... ya saya berhenti, tinggal di rumah saja. 

    Padahal di dalam perjalanan hidup sewaktu masih kecil, sudah ada wanti-wanti dari Ibunda untuk bekerja. Alasannya kalau nanti suami "macam-macam", berani mengambil keputusan untuk meninggalkannya. Serem yaaa ... waktu itu!

    Menambah Wawasan

    "Banting setir", dari seorang sekretaris menjadi seorang ibu rumah tangga, ada banyak ketakutan juga. Kok rasanya aku menjadi lebih bodoh. Urusannya hanya muter-muter dalam rumah saja. Sedangkan sebagai sekretaris banyak yang bisa saya kerjakan, bertemu orang banyak, apalagi berbagai karakter setiap orang berbeda, sudah pasti banyak pelajaran yang bisa didapatkan untuk menambah wawasan. Tentulah menjadi lebih pintar.

    Nasi sudah menjadi bubur tidak bisa diulang kembali. Setelah menjalani pekerjaan sebagai ibu rumah tangga yang monoton alias muter-muter saja dalam rumah, mulailah saya "bergerak". 

    Saya pada dasarnya tidak mau menerima nasib diam saja. Dengan tangan yang tidak mau berhenti mengetik di gawai, saya bisa menambah wawasan baru, hanya melalui Google maupun you tube. Akhirnya, label baru pun didapat. Ibu Rumah tangga Plus, saya bisa juga berkarya. Menjadi seorang penjahit.

    Otak harus dipakai, berpikir terus biar tidak cepat pikun, begitu kira-kira celaan yang sering terdengar ketika seorang perempuan mengambil keputusan diam di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Hihihi miris.

    Kasihan RA. Kartini

    Rasanya, perempuan sebagai mahkluk kedua setelah laki-laki, untuk zaman sekarang harus lebih keras berjuang untuk menyamakan emansipasinya. Kasihan RA Kartini sudah capek-capek memajukan para perempuan, loh kok perempuan yang satu ini malah mundur menjadi seorang ibu rumah tangga. Eaaa ... maafkan itu hanya pilhan yang diambil oleh perempuan seperti saya. Apakah ini menyakitkan mu?

    Menikmati kehidupan di rumah, memang mengasyikkan. Banyak ketrampilan yang dipelajari, mulai dari membuat kerajinan tangan, dari benang wool, sulaman, membuat karpet benang, sampai kursus menjahit semua dilakoni. 

    Baca juga :


    Ibu Rumah Tangga Plus

    Biasanya bekerja sebagai sekretaris tidak ada tenaga ekstra yang perlu dikeluarkan, tinggal dandan yang cantik, bercas cis cus Inggris, plus beramah tamah menghadapi klien. Sekarang banyak yang perlu saya kerjakan, perlu tenaga ekstra saya keluarkan. Apalagi ketika mulai banyak klien yang menjahitkan bajunya kepada perempuan seperti saya ini. Dan tidak tanggung-tanggung klien para ibu guru International school. Semua berkat bantuan adik-adik saya yang menjadi guru di sekolah internasional.

    Belajar Ilmu Parenting dan Akhirnya Mentor

    Dalam perjalanan kehidupan tersebut, akhirnya buah hati datang di pangkuan, berrubah 180 derajat untuk setiap pekerjaan yang dilakukan. Berhenti kembali. menikmati menjadi seorang ibu, belajar parenting untuk mendidik anak-anaak. Tetap saya harus belajar sesuatu untuk menambah ilmu. Khususnya dalam pendidikan anak-anaka. Sudah pasti ketrampilan meyupir saya meninggkat, mengantar anak-anaka bersekolah. Apakah saya behenti berpikir? tidak juga. Menambah ilmu bagaimana cara bergaul yang aik dengan sesama ibu-ibu juga saya pelajaari bagaimana cara berskikap menghadap perbedaan yang ada, menerima kareakter yang bertolak belakang. 

    Setelah anak-anak mulai besar dan saya mulai ada kelonggaran waktu, mulailah saya berpikir apa yang bisa saya lakukan dengan pengalaman kehidupan saya. Barangkali di luar sana ada para perempuan yang perlu saya tolong? Pas mulai masuk masa pandemi, entahlah tiba-tiba tanpa sadar saya berjalan ke arah penulisan. Mulai lah terbit satu persatu buku-buku Antologi bersama teman-teman. Belajar ilmu kepenulsian, dan akhirnya tiba-tiba tersadar saya menjadi seorang mentor yang mengajarkan para perempauan untuk lebih mencurahkan isi hatinya melalui penulsian di blog. 


    'nd

    Menarik garis merah yang samar-samar masih terlihat. Dari seorang sekretaris menjadi seorang mentor penulisan sama-sama melayani dengan bidangnya masing-masing. Dan yang pasti otak saya masih terus dipakai hehehe. Jadi tidak ada salahnya sebagai seorang perempuan mengambil keputusan yang berbeda dengan keinginan orang banyak,  


    Love, Audy.


    Share:

    0 Comments:

    Posting Komentar




    AJPena Online Class

    Buletin My World

    Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

    Ebook Audy Jo







    Klik Gambar Buku untuk Beli
    Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

    Advertisement