ONLINE CLASS


 

SimSalabim



Sejak Ananda Attila dan Abigail dari kandungan selalu didoakan menjadi anak yang pintar. Sebagai orang tua kalau di keluarga kami selalu "tumpang tangan" memberikan doa. 

Kadang sebagai orang tua suka keceplosan ngomong enggak benar. Nah cepat minta ampun ke Atas minta cabut perkataan yang terlontar.

Belum pernah jadi orang tua. Begitu kalau ada kesalahan yang diperbuat. "Memaafkan diri sendiri". 

Lelah? Sebagai manusia kadang merasa seperti itu. Semua maunya instan kalau boleh sih!

Seperti tongkat pesulap, cring ... ups bukan koin jatuh yaaa hehehe. 

Sekali diayunkan tongkat akan membuat "keajaiban". Seperti  itulah kira-kira bayangan yang ada. Kepengennn. 

Cring ... anak-anak sudah bisa kerja. Seru ya kalau mau bermimpi seperti itu! 

Tapi, kenyataan yang ada lain. Belajar bersabar, memberikan nasehat, arahan.  Nasehat? Ah berpikir kalau sudah orang tua pasti tahu segalanya. Ternyata, tidak mudah. 

Kalau lagi datang sedih, jadi ingat dulu saya gimana ya waktu kecil. 

Jadi harus menerima keadaan yang ada.

Bagaimana cara orang tua dulu mendidik? Rasanya terjadi juga di masa sekarang. Pola yang diterapkan mengambil satu, dua pola dari orang tua dulu. Tidak semua bisa diterapkan karena sudah berbeda zaman. 

Zaman sekarang anak-anak lebi aktif. Dalam artian mereka bisa menjawab setiap nasehat yang kita berikan kalau merasa tidak sesuai dengan hati. Sebagai orang tua kadang "oh, nasehat tidak benar!"

Benar enggak Bunda, Miss yang lagi baca? Boleh dong masukkannya.

Tetap  harus semangat, ga boleh loyo. Belajar ilmu parenting boleh saja untuk melihat arah apa yang bisa dicoba. Karena satu kasus keluarga tidak sama dengan kasus di keluarga lain.

Selalu ... paling penting mendoakan anak-anak sehat, baik, pintar, dan paling penting dari semua takut sama Tuhan.

Rasanya ... banyak yang ingin diminta kepada yang di Atas, tetapi pasti sudah ada "catatan" apa yang terbaik dari Nya.



Love, Audy


Posting Komentar

0 Komentar