Advertisement

Main Ad

Mental Health Yang Mengganggu

 




 "Jangan Ambil Apelku!"


Kalimat di atas sepertinya biasa saja dalam suatu pertengkaran, memperebutkan sebuah apel. Biasanya dilakukan anak-anak yang masih kecil. Tapi kalau seorang dewasa yang mengucapkannya terhadap anak kecil, itu sesuatu yang ganjil. 


Pernah terpikirkan atau mengalaminya? Sebagai seorang perempuan yang baru melahirkan hal tersebut pernah dialami olehku. 

Kecemasan termasuk  mental health yang bisa merugikan.

Ada beberapa hal,  tanpa disadari  melanda  diri dan bagaimana pengobatannya :


1. Kecemasan yang menggangu 

Karena aku orangnya suka mencari kesempurnaan, jadi setiap kondisi yang ada aku perhatikan, catat. Kalau oleng kenapa? Bagaimana cara menanganinya. Makanan apa yang  harus di makan kalau lagi datang  kecemasan aku berbaring, mencari kekuatan sambil berbaring miring menyeruput  oatmeal cair.






"Tolong bikinkan oatmeal, Nani!” kadang aku berteriak kepada pembantu dan pengasuh andalanku, sama seperti namanya kalau dibaca secara Inggris seperti Nanny.

Kadang sambil berjalan, aku mengetahui kalau berjalan sambil  berjinjit itu terasa enak, badan tidak oleng. Seperti menyeimbangkan badan, tegak lurus. Rasanya seperti penari balet. Pegal? iya tentu saja. Yang tidak pernah berjalan jinjit  sekarang pola jalan berubah.  Terkadang tiba-tiba berkeringat. Ya ampun!  tahu sendirikan yang sudah pernah ke Bandung. Udaranya dingin tapi aku bisa berkeringat banyak. Orang rumah juga bingung melihat aku seperti itu.




2. Apakah ini perubahan hormon? 

Kadang bertanya kepada diri sendiri.  Untuk keadaan ini aku menemukan cara supaya keringatku tidak membasahi wajahku. Ikat ujung handuk kecil yang satu dengan yang lain menjadi seperti bando dikepala.  Kadang merasa geli sendiri, kok seperti abang-abang tukang becak yang sedang menarik penumpang. Mengayuh pedalnya disiang hari. Berkeringat.

Tapi semua kulalui dengan ketabahan, jalani saja, berserah kepada Tuhan. Pasti semuanya akan lewat  dan mengalami kesembuhan.




Keluargaku tinggal dirumah Mami, atau istilah kerennya rumah Mertua Indah, kata suamiku. Terletak di bukit  Ligar jauh dari kota Bandung, untuk mencari makanan lebih susah, tidak ada restaurant, supermarket. Hanya warung dan toko kecil. Kalau sudah sampai di rumah, malas ... kalau mau pergi lagi, karena harus mengambil waktu untuk turun dari bukit.

Saat suami akan pergi ke Jakarta, mencari pekerjaan. Kami kadang menyiapkan persediaan makanan. Biasanya ada persediaan susu, makanan sereal, bubur bayi, buah-buahan. Khusus untuk buah, biasanya aku mempunyai jadwal makan jam 10.00 pagi dan jam 16.00 sore.



Siap siaga dengan kelemahanku, aku ingin semua sempurna. jadi semua jadwal pribadiku dan anak-anak sudah diatur. Baik itu jadwal makan dan minum susu untuk kedua anakku .

Jadwal untukku juga sudah diatur kapan aku sarapan, makan selingan, makan siang. Juga masak makanan apa yang boleh aku makan. Sampai cara pembuatannya, minyaknya bagaimana, kematangannya juga. 

Ahh  cerewet banget aku ini.

Jadi pada saat persediaan buah-buahanku berkurang aku menjerit. Keponakanku tercinta minta apel.




“Mikha minta apel satu boleh, Mamong?"

Aku dengan pelitnya berkata “tidak boleh” nanti habis persediaan Mamong.

Tertegun wajah keponakanku Mikha, seperti tidak percaya. Karena biasanya apa saja yang ada aku berikan.

Mamong … aku juga tidak mengerti panggilan sayang untukku, julukan ini diberikan oleh adikku Dee.  Aku dan suamiku mempunyai panggilan sayang Papong dan Mamong. Jadi semua keponakanku, anak adik-adikku memanggil aku dan suamiku seperti itu, katanya bahasa Perancis. Bener enggak yaa!

Sedih rasanya kalau mengingat saat itu, seperti tak percaya wajah keponakanku melihat aku, hanya karena sebuah apel, aku tega berkata tidak, padahal keponakanku ini “anak pertamaku” sebelum anakku lahir.

Aku membesarkan seperti anakku sendiri, memandikan menyuapi, menyanyikan lagu untuknya. Setiap siang aku bacakan cerita.  Menemani dia tidur siang, karena orangtuanya, adikku Dee dan suaminya bekerja.

Apakah karena kecemasanku? Sehingga aku tega melarang keponakanku makan apel. Walau hanya satu!


3. Perlu di kelilingi oleh orang-orang tercinta

Bersyukur dikelilingi oleh orang orang tercinta. Membantu dalam masa pemulihan. Pembantu ada  3 orang semua bisa memasak, mengasuh bayi dan membantu membereskan rumah.

Karena aku hanya mau berbaring. Karena kami tinggal dirumah mami, jadi setiap keluarga mempunyai satu pembantu untuk mengurus kami. Bayar masing-masing tapi untuk pekerjaannya mereka mengurus semua keluarga yang ada dirumah mami. Saling bantu.

Untuk anak-anak  dan keponakan yang masih kecil biasanya ada satu orang yang khusus untuk mengurus. Memberikan makanan, memberikan susu, dan  memandikan.  Jadi “nanny” ini yang merawat anak-anak dan keponakkanku yang masih bayi. Bersyukur aku punya pembantu yang pintar.

Dalam keadaan darurat bisa minta pertolongan mami untuk menjaga bayi Abigail. Tapi tetap saja aku harus tahu diri, karena umur mami sudah tidak muda lagi.


4. Pasrah dan berserah kepada Tuhan.

Banyak hal yang terjadi didalam hidup, tidak sesuai dengan keinginan kita. Walaupun dikejar, diusahakan, tapi kalau Tuhan belum berkehendak semua tidak akan terjadi. Tapi yang pasti, kita harus mengejar yang Empunya Kuasa, pasti semuanya akan terjadi.

 



Love, Audy

Reff: Wikipedia



Tulisan ini diikutsertakan dalam 15 Days Writing  Challenge Blogger Pemula




Post a Comment

3 Comments

Ummu Hanif said…
Saya pernah mba beli camilan. Terus saya bagi buat ponakan. Semua dapat bagian yang sama. Terus saya bilang, "yang ini punya tante, jadi ga boleh diambil", hahaha.
Audy Jo said…
Hahaha itu sudah biasa. Pembagian jatah.
Mayuf said…
Sangat bermanfaat bund