"Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu"
(Keluaran 20:12).
Rasanya membahas tentang sosok perempuan enggak pernah habis. Tentu saja yang saya kuasai yaa tentang perempuan, hehehe. Karena saya perempuan dan merasakan setiap keadaan yang ada.
Sewaktu anak anak masih kecil, saya pernah berbincang dengan beberapa teman perempuan yang anak-anaknya sudah beranjak dewasa.
'Nikmati saja dengan perilaku anak anak sekarang, akan ada masanya semua berubah!' Apakah itu benar? Tentu benar, perilaku anak-anak berubah dan mulai masuk perilaku remaja yang kadang bisa membuat takjub, sedih tertawa dan berbagai macam perasaan di dalam hati yang bikin, ah, sampai begitunya?!
Ketika mereka sudah tidak mau diberitahu, dan malah balik memberitahu. Menganggap mereka benar. Satu kalimat yang bisa dibalas beribu kalimat.
Apakah saya salah dalam mendidik anak? Ternyata dalam ilmu parenting ada berbagai macam cara yang harus dilakukan seorang ibu menghadapi anak remaja.
Menghadapi anak remaja (baik laki-laki maupun perempuan) membutuhkan keseimbangan antara kelembutan emosional dan ketegasan aturan, mengingat mereka sedang berada dalam fase pencarian jati diri dan perubahan hormon.Beberapa cara praktis yang bisa diterapkan oleh seorang ibu:
1. Bangun Komunikasi yang Terbuka
• Jadilah pendengar yang baik: Dengarkan cerita anak tanpa langsung menyalahkan, menghakimi, atau menceramahinya.
• Gunakan pertanyaan terbuka: Alih-alih menginterogasi (misalnya “Kenapa kamu pulang telat?”), gunakan kalimat empati seperti “Ibu lihat kamu agak cemas hari ini, ada yang mau diceritakan?”.• Turunkan nada bicara: Saat anak berbuat salah atau emosinya sedang meluap, tahan amarah dan turunkan nada bicara agar anak tidak menutup diri atau berbohong.
2. Hormati Privasi dan Ruang Pribadi
• Beri ruang mandiri: Hargai privasi mereka seperti kamar pribadi, buku harian, atau ponsel, selama tidak ada indikasi bahaya yang mendesak.• Bangun kepercayaan dua arah: Berikan kepercayaan secara bertahap agar anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
3. Terapkan Aturan yang Disepakati Bersama
• Buat batasan yang jelas: Diskusikan aturan rumah secara bersama-sama (misalnya batasan jam malam, aturan penggunaan gadget, dan larangan merokok atau alkohol).• Berikan konsekuensi yang logis: Jika aturan dilanggar, berikan konsekuensi yang tegas namun tetap penuh kasih sayang, bukan dengan kekerasan fisik atau verbal.
4. Pendekatan Berdasarkan Gender (Laki-laki & Perempuan)
Untuk Anak Laki-laki:• Ajarkan mereka untuk mengenali dan mengekspresikan emosi dengan sehat (karena sering kali anak laki-laki dituntut untuk "kuat" dan menahan tangis).
• Berikan tanggung jawab nyata yang melatih kelak kepemimpinannya, serta bimbing mereka menjaga diri dan menghormati batasan fisik.
Untuk Anak Perempuan:
• Dampingi secara fisik dan psikologis terkait masa pubertas seperti menstruasi, kebersihan diri, dan perubahan bentuk tubuh.
• Bantu mereka membangun citra diri yang positif dan kepercayaan diri di tengah tekanan media sosial atau lingkungan pertemanan.
5. Berikan Edukasi yang Relevan (Bukan Ditutupi)
• Edukasi pergaulan dan kesehatan reproduksi: Berikan pemahaman terbuka tentang pergaulan sehat, bahaya narkoba, rokok, seks bebas, serta cara menyikapi ketertarikan pada lawan jenis.• Ajarkan pengelolaan stres: Bantu anak mengenali cara melampiaskan stres atau tekanan sekolah dengan kegiatan positif (olahraga, hobi, atau bercerita kepada orang yang tepat).
Memang semua harus dipelajari, engga ada orang tua yang sempurna, apalagi baru pertamakali menjadi orang tua. Saya kok beranggapan mendidik anak seperti trial and error. Percobaan dan kegagalan atau berhasil. Jadi ingat kalimat 'Punya anak kok dicoba coba!' Maksudnya disini, setiap orang tua punya ide atau gagasan, langsung ditujukan kepada anak.










.jpg)
0 Comments:
Posting Komentar