Menu

 

Kesombongan yang Menghancurkan

 

Amsal 14:12 Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. 



Pernah dengar cerita tenggelamnya Titanic? 

Ketika ego lebih berbicara daripada mendengar nasehat orang lain. Begitulah ketika manusia selalu mengandalkan kekuatan sendiri dan lebih percaya diri. 

Kapal Titanic dengan kapten yang sudah berpengalaman merasa diri tahu segalanya, padahal sudah ada enam peringatan yang diberikan, kalau kapal harus mengubah arah dan melalui arah selatan saja karena ada gunung es di dalam perjalanan mereka.Tetapi kapten kapal mengindahkan peringatan itu, begitulah ketika ego, kesombongan menutup mata seseorang. 

Dan benar saja kapal itu menabrak gunung es, padahal Titanic adalah kapal baru dan digadang-gadang sebagai kapal yang tidak akan tenggelam. Apa yang dipikirkan manusia tidak sama dengan rencana Tuhan.

***
Sebagai manusia, kita kadang merasa diri kita bisa menyelesaikan masalah, tetapi pada kenyataannya, tidak bisa. Harus ada pengorbanan yang harus kita lakukan. Duduk bertelut, memohon ampun untuk ketidakpercayaan kita terhadap kuasa Tuhan.

Dalam perjalanan hidup, sebagai ibu rumah tangga dan isteri dari seorang arsitek yang cakap, ada kesombongan yang tidak disadari. 

Ketika dengan gampangnya uang dari hasil gambar masuk ke dalam kas belanja, bukan satu juta, tapi puluhan juta sampai ratusan juta. Dan Tuhan tidak senang, ketika hanya mengandalkan uang hasil proyek itu. Seperti dibutakan saja, dan ketika uang itu berbalik menjauh, belum juga menyadarinya. 

Sampai ketika jatuh dan terpojok, mulai mencari alasan secara manusiawi dan mulai bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa ini bisa terjadi? Ada rasa marah, tidak percaya karena Tuhan tidak menolong. 

Ketika semua bisa terlewati dan akan selesai, kembali kesombongan saya muncul dan apa yang dilakukan seperti dibutakan saja, tidak bertanya kepada Tuhan dan suami, apakah apa yang dilakukan itu benar atau tidak. 

Begitulah ketika kesombongan berbicara. Dan benar saja, mulai jatuh dan terpojok. Ini adalah pelajaran kehidupan kedua yang harus dilalui. Dan lutut ini harus selalu berbicara ketika setiap subuh terbangun.

***
Barangkali … ini barangkali, kesalahan itu bermula dari kebiasaan di dalam keluarga besar, ketika uang banyak berbicara dan menikmatinya. Semua itu gampang didapat. Ketika menikah pun, diberi kebebasan untuk mengatur keuangan.

Begitulah ketika arah tujuan tidak ditetapkan sesuai firman Tuhan. 

Kita tidak bisa melangkah sendirian, semua harus ada pakemnya. Bertanya kepada Tuhan apakah jalan yang kita tempuh ini sesuai dengan arahan-Nya? Minimal sebagai seorang istri, minta nasihat dari suami untuk jalan yang harus diambil.

Semua ada proses yang harus kita jalani, dan proses itu membentuk jiwa kita menjadi lebih baik.

Kesombongan harus dihilangkan. Mudah? Tidak mudah! Tetapi minimal ada kaca besar di depan yang memperlihatkan siapa kita, dan keputusan yang diambil harus mempertanyakan dulu. Sehingga hasil yang didapat sesuai dengan yang Tuhan mau.

Bagaimana dengan diri sobat? Apa yang sedang dilalui dalam kehidupan ini


---AJ

Share:

0 Comments:

Posting Komentar




AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement