Menu

 

“Bayar Na Kumaha?!”: Antara Mimpi Kuliah dan Realita Orang Tua

 



Sumber " Pexels, Freedyourvision


Ditulis di Kompasiana 


“Bayar Na Kumaha?!”: Antara Mimpi Kuliah dan Realita Orang Tua

Ah, siapalah saya ini. Bukan siapa-siapa. Hanya seorang ibu yang, kalau lagi suntuk, numpahin isi kepala lewat tulisan. Bukan ahli pendidikan, bukan pengamat kebijakan, apalagi pejabat. Tapi satu hal yang pasti: saya sedang ada di fase yang sama seperti banyak orang tua lain—fase ketika anak mulai melangkah ke dunia yang lebih serius, bernama masa depan.

Dan entah kenapa, semakin dekat ke sana, semakin banyak pertanyaan yang tidak punya jawaban sederhana.

Kalau lihat media sosial akhir-akhir ini, saya tahu saya tidak sendirian. Banyak ibu yang mulai “berisik”. Bukan tanpa alasan. Kami sedang sama-sama sadar: ada sesuatu yang terasa berat—terutama kalau sudah menyangkut pendidikan anak.

Bulan April ini rasanya jadi bulan yang penuh emosi. Anak-anak kelas XII sedang berada di persimpangan: lanjut kuliah, kerja, atau entah apa lagi. Tapi bagi sebagian besar dari kami, para orang tua, pilihan “lanjut kuliah” tetap jadi harapan utama. Entah bagaimana caranya.


Ambisi Orang Tua yang Kadang Terlalu Rapi

Sejak awal, saya termasuk orang tua yang cukup “niat”. Saya mendorong anak untuk aktif, ikut lomba, mengumpulkan sertifikat, dan masuk organisasi seperti OSIS. Pokoknya, kalau ada kegiatan yang bisa menambah nilai plus, saya arahkan ke sana.

Bukan tanpa alasan. Dari yang saya dengar, semua itu penting untuk masuk perguruan tinggi. Semacam “bekal” supaya terlihat layak di mata sistem.

Dan memang benar, ketika melihat formulir pendaftaran, semua itu ditanyakan. Prestasi, pengalaman organisasi, kegiatan selama sekolah. Seolah-olah masa SMA bukan hanya tentang belajar, tapi juga tentang membangun portofolio sejak dini.

Tapi masalahnya, hidup tidak selalu serapi checklist.

Ada keinginan anak yang tidak selalu sejalan dengan rencana orang tua. Dan ketika mereka mulai bicara, kadang kita sebagai orang tua justru tidak punya jawaban.

“Kalau nanti di tengah jalan aku nggak sanggup, gimana?”

Kalimat sederhana. Tapi efeknya luar biasa. Seperti rem mendadak yang menghentikan semua ambisi yang sudah kita susun rapi.


Jurusan yang Tidak Kita Pahami

Bioteknologi.

Waktu pertama kali anak saya menyebut itu, jujur saja, saya cuma bisa diam. Berusaha terlihat mengerti, padahal dalam hati bertanya-tanya: ini kuliah apa, ya?

Zaman saya dulu, pilihannya tidak sebanyak sekarang. Atau mungkin, kami yang tidak punya cukup informasi untuk bermimpi lebih jauh. Yang penting cepat kerja. Jadi, sekretaris, administrasi, atau pekerjaan lain yang jelas arahnya.

Sambil berjalannya waktu, mungkin pilihan bisa dibelokkan ke jurusan yang lebih umum. Apalagi, ada tawaran menggiurkan kalau ambil jurusan di perguruan tinggi tersebut  akan mendapat beasiswa 100%, kalau melalui jalur mitra.

Sekarang? Anak-anak punya visi sendiri. Mereka tahu apa yang mereka mau, bahkan kadang lebih tahu daripada orang tuanya.

Dan di titik itu, kita sebagai orang tua hanya bisa melakukan satu hal yang paling sulit: belajar percaya.


Deg-degan yang Tidak Kelihatan

Ketika anak saya masuk jalur SNBP, ada rasa bangga yang diam-diam tumbuh. Rasanya seperti satu tahap sudah terlewati tanpa harus berjuang di ujian lagi.

Tinggal menunggu hasil.

Dan ternyata, menunggu itu jauh lebih melelahkan daripada ujian itu sendiri. 

Mengikuti tren yang ada, yang juga merupakan kenangan yang membahagiakan adalah membuat video detik-detik mendebarkan seperti ini, dengan risiko kalau tidak lolos, video itu akan tetap sebagai hal yang pribadi, kecuali yang bersangkutan mau dipublikasikan.

Hari pengumuman tiba. Suasana rumah mendadak hening. Semua seperti menahan napas. Ketika hasil akhirnya muncul, hanya butuh satu detik untuk membaca kalimat yang rasanya panjang sekali:

“Kamu tidak lolos.”

Nyerinya tuh di situ.

Anak saya terlihat kuat. Tidak menangis, tidak marah. Tapi saya tahu, ada sesuatu yang sedang dia tahan. Dan di saat yang sama, saya juga sedang menahan sesuatu—perasaan yang tidak bisa dijelaskan, tapi berat sekali.

Karena kalau saya ikut runtuh, dia mau bersandar ke siapa?


Satu Kalimat yang Terlalu Nyata

Di tengah semua itu, saya melihat sebuah konten video di media sosial yang membuat saya miris. Melihat ekspresi seorang ibu yang mengetahui anaknya lulus SNBP, dan bertanya ke anaknya, 

“Terus bayar na kumaha?!”

Orang-orang pada tertawa. Katanya lucu. Realistic. “Ibu banget.”

Saya diam.

Karena buat saya, itu tidak lucu. Itu nyata.

Itu adalah kalimat yang mungkin pernah terlintas di kepala banyak orang tua, hanya saja tidak diucapkan keras-keras. Kalimat yang muncul bukan karena tidak bahagia, tapi karena terlalu sadar akan realita.

Bahwa setelah kata “selamat”, ada satu pertanyaan besar yang menunggu: sanggup atau tidak?


Sistem yang Tidak Selalu Mudah Dipahami

Jujur saja, sampai sekarang saya masih mencoba memahami bagaimana sistem seleksi seperti SNBP ini bekerja.

Ada yang bilang soal nilai, soal prestasi, soal ekonomi. Ada juga yang menyebut KIP, data rumah, bahkan Google Maps bisa jadi bahan pertimbangan.

Kalau benar begitu, rasanya agak aneh.

Bagaimana kalau tampilan luar tidak mencerminkan kondisi sebenarnya? Bagaimana kalau seseorang tinggal di rumah bagus, tapi bukan miliknya? Atau sebaliknya?

Banyak tawaran beasiswa yang berseliweran di media sosial yang ditawarkan untuk para murid yang memang SNBP-nya bagus dan tidak lolos. Dengan peristiwa yang pernah dialami oleh anak saya yang pertama, semua beasiswa itu tidak mungkin menutupi biaya seluruhnya. Ada yang berupa potongan uang masuk.

Tapi ya sudahlah. Pada akhirnya, kita kembali ke kalimat paling aman: semua sudah diatur.

Meskipun jujur saja, kadang kita tetap butuh penjelasan yang lebih masuk akal.


Harapan yang Sebenarnya Sederhana

Sebagai orang tua, sebenarnya keinginan kami tidak muluk-muluk. Kami hanya ingin anak-anak bisa sekolah dengan tenang. Tanpa harus dihantui pertanyaan biaya di setiap langkahnya.

Pendidikan seharusnya bukan privilege. Tapi kebutuhan dasar. Sesuatu yang seharusnya bisa diakses semua orang tanpa harus merasa takut duluan.

Kadang saya berpikir, kalau banyak hal bisa didanai dengan angka triliunan, kenapa pendidikan tidak benar-benar diprioritaskan sepenuhnya? Seperti melihat kasus dengan Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dengan beberapa kasus yang terjadi, seperti keracunan makanan, memang lebih baik uang itu dipakai untuk biaya pendidikan, kan enggak mungkin keracunan! Supaya tidak ada lagi momen bahagia yang langsung diiringi kecemasan.


Tetap Jalan, Mau Tidak Mau

Tidak lolos SNBP bukan akhir dari segalanya. 'Masih banyak jalan menuju Roma.' Sekarang, kami lanjut ke tahap berikutnya: UTBK. Ujian Tes Berbasis Komputer.

Anak-anak yang sudah sampai tahap , "Ah, aku sudah selesai SMA-nya! Ada rasa malas, enggan ketika pelajaran itu diulang lagi. Belajar lagi. Try out lagi. Mengulang semua proses dengan harapan hasilnya berbeda.

Capek? Jelas. Tapi tetap dijalani.

Karena pada akhirnya, semua orang tua punya tujuan yang sama: melihat anaknya berhasil melangkah ke masa depan yang lebih baik. Dengan jurusan yang mereka pilih sendiri. Dengan jalan yang mereka yakini. Dan kalau bisa—dengan biaya yang tidak membuat kami harus berpikir dua kali untuk bertahan.

Bukan karena orang tua ingin lepas tangan, ini adalah doa yang tak perlu diucapkan supaya anak-anak bisa menjalani kehidupan di dalam dunia ini, dengan perjuangan mereka sendiri, dan tanpa pertolongan orang tuanya lagi.


Akhirnya, 

Mungkin kami para orang tua tidak selalu mengerti sistemnya. Tidak selalu paham istilah-istilahnya.

Tapi satu hal yang pasti: kami selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Jangan sampai ketika mereka dewasa, menyalahkan keputusan yang diambil karena orang tua tidak turut campur tangan dalam pendidikan mereka.

Generasi muda adalah bibit unggul untuk memajukan negeri tercinta. Diharapkan generasi muda tidak kabur ke negeri orang karena fasilitas pendidikan, kehidupan, dan penghasilan yang lebih baik dihargai di negeri orang.

Dan kalau boleh berharap sedikit saja ... jangan dipersulit.



Salam,
Audy Jo




Share:

0 Comments:

Posting Komentar




AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement