Menu

 

Pernikahan Kedua

 



Ceritadiri.com ~ Seperti ada beban berat yang terangkat dari pundak seorang ibu ketika anak-anak menikah.


    Sebuah Pencapaian

    Apalagi ketika anak perempuannya menikah. Sebagai sesama perempuan ada perasaan yang semua perempuan tahu. Seperti ada pencapaian. Itu yang saya rasakan.

    Ketika dari remaja kadang memandang masa depan seperti ada terowongan gelap yang harus dilalui. Tidak terlihat gambaran setelah melewati terowongan itu.

    Memang tidak bisa dipungkiri sebagai seorang ibu ketika anak-anak sudah bisa mandiri, berkeluarga. Ada rasa pencapaian tertentu sampai tahap ini. Dalam artian sebenarnya. 


    Anak Tetaplah Anak

    Seorang anak tetap anak bagi seorang ibu biarpun dia sudah beranjak dewasa sekalipun.

    Dalam masyarakat khususnya di Indonesia yang saya perhatikan masih ada yang namanya bibit, bebet, bobot. Walaupun tidak terlalu terlihat, tapi ada! Enggak mungkin juga seorang ibu mengijinkan anaknya menikah dengan orang gila! Saya sih enggak mau! Kecuali dalam cerita fiksi, seorang pangeran yang lupa ingatan karena jatuh dari kuda.


    Pernikahan Kedua?

    Lagi memikirkan kalimat pernikahan kedua. Anak-anak ditanya kalimat ini, mereka mulai "pasang taring", he-he-he. Semua tidak suka! Walaupun dalam Alkitab diijinkan, asal pasangan yang akan dinikahi adalah seseorang yang ditinggal pergi meninggal.


    Beberapa kondisi dari Pernikahan kedua

    1. Tidak menjamin akan langgeng

    2. Tetap belajar mengenal sifat pasangannya.

    3. Kadang cerita lama mempengaruhi kehidupan pernikahan baru

    4. Tantangan dari keluarga yang tidak setuju

    5. Tantangan dari anak-anak yang tidak setuju

    6. Sebutan nama Papa/Mama baru yang susah diucapkan


    Mengapa Ada Perbedaan?

    Ada pertanyaan yang mengganjal dalam hati; Mengapa seorang perempuan mempunyai keinginan menikah untuk kedua kali banyak larangan muncul? Sedangkan seorang laki-laki tidak pernah ada larangan. Apakah ini termasuk larangan emansipasi kaum perempuan. Apa termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia / HAM?

    Ada rasa di hati, pernikahan kedua sebuah aib yang memalukan untuk perempuan. 

    Apa karena seorang perempuan dilarang karena takut menodai kesuciannya, walaupun ini adalah pernikahan keduanya.

    Saya rasa sudah ada pola pikir sejak dahulu lelaki memang sudah biasa mempunyai isteri banyak. Sedangkan cerita perempuan mempunyai suami tidak ada. 

    Seperti zaman penjajahan saja. Apa jaman priyayi ya? 

    Memang perempuan dipandang hina. Belas kasihan terhadap perempuan, barangkali nanti takut disakiti oleh orang baru. 

    Rasanya seperti tidak pantas untuk seorang perempuan melakukan kesalahan fatal. Ketakutan bila pernikahan ini  mempengaruhi perkembangan anak-anak, karena dia juga sebagai seorang ibu.


    'nd

    Memang masih ada perasaan yang bisa dikendalikan di antara perasaan yang menggumpal di hati? 

    Masih ada rasa kagok untuk menempatkan perasaan baru. Tidak mudah! 

    Seorang perempuan dapat dengan mudah mengatur perasaannya menghadapi situasi yang terjadi. 

    Harapannya untuk yang berani mengambil keputusan, semoga tetap langgeng sampai akhir hayat. Jangan lupa pernikahan baru semua harus baru, jangan bermain di atas "kasur" yang lama.


    Love, Audy




    Share:

    0 Comments:

    Posting Komentar




    AJPena Online Class

    Buletin My World

    Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

    Ebook Audy Jo







    Klik Gambar Buku untuk Beli
    Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

    Advertisement