Menu

 

Idola Yang Selalu Ditunggu oleh Para Perempuan






 "Wanita diciptakan istimewa. Tetap tegar meski nyaris menyerah, 

tetap sabar meski ingin mengeluh, tetap kuat meski hampir terjatuh."




Enggak berlebihan judul yang ditulis di atas. Beliau salah satu orang di dalam kehidupan perjalanan diri ini. 

Ketika rasanya diri ini sudah sampai pada level, "bisa apa aku? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana masa depanku? Apa yang bisa aku lakukan sebagai seorang perempuan, apalagi sebagai ibu?

Banyak pikiran yang berkecamuk di kepala kecilku ini. Ketakutan sebagai perempuan yang tidak bekerja. Ada perasaan ketakutan tersendiri.

Diwaktu muda bekerja dan kemudian berhenti menjadi ibu rumah tangga biasa. 

Semua pekerjaan yang kata orang identik dengan ibu rumah tangga hampir semua aku ikutin.

Kebiasaan jatuh bangun, dan gagal sepertinya sudah biasa. Hanya satu kata yang selalu mengganggu di hati, "malu!" karena belum pernah berhasil.

 Malu karena hanya menghabiskan uang suami. Walaupun suami tidak pernah hitung-hitungan dengan diri ini. Suami tetap berprinsip "uangku adalah uangmu".

Beruntung di usaha online  mempunyai leader yang dekat, sudah seperti saudara saja. Walaupun hanya bertemu di dunia maya, dan dua kali bertemu langsung.

Selain berbisnis di dunia kosmetik ternyata teman leader ini juga bergabung dengan grup ibu-ibu doyan bisnis dari Indscript Creative. 

Dari teman bisnis online ini akhirnya bertemu dengan idola para perempuan pendiri Indscript Creative.

Walaupun ikutan masuk grup Ibu-ibu doyan bisnis. Belum tergerak untuk ikut menulis buku.  

Waktu itu grup masih ada di Whatsapp, dan menjual Handsock. 

Sebelum bergabung minta ijin dulu dengan idola para perempuan yaitu Ibu Indari Mastuti alias Teteh Indari sebagai owner perusahaan. Apakah boleh sebagai perempuan beragama bukan muslim ikut bergabung. Dan jawaban Beliau boleh asalkan perempuan.

Teman Leader yang sudah duluan di grup ini ternyata ikut juga di grup Bukuin Aja sebuah grup bisnis penulisan di bawah Indscript Creative.  Melihat perjalanannya membuat buku. Satu buku terbit, eh bukunya yang lain terbit juga, buku solo. Keren! Penasaran deh!

Akhirnya, setelah masuk dunia penulisan menjadi lebih fokus di bidang tulis menulis. Seperti mendapat jalan atau mendapat inspirasi "aku bisa melakukan sesuatu". 

Mendapat ilmu baru yang disharingkan Te Indari terus diaplikasikan di diri. Yang tadinya hanya menulis di blog dengan sembarangan sekarang sudah mulai mengerti arah tujuan penulisan. Walaupun saat itu hanya dua Antologi yang dihasilkan, tapi dampak dari pembelajaraan yang didapat sungguh dasyat.

Kalimat yang sering diucapkan Teteh Indari "Belajar dan terus belajar" menjadi cambuk untuk mengenal bidang lain selain penulisan.

Mulai dari membuat website yang dikhususkan untuk teman perempuan lain, mengembangkan penulisan dengan genre fiksi.

Dari pembelajaran penulisan solo bisa berkembang menjadi penulisan Ebook.

Jadi kalau mau dibilang siapa yang berjasa untuk pencapaian diri saat ini sudah pasti aku akan menunjuk idola para perempuan, Ibu Indari Mastuti.

Apalagi saat ini, diberikan kesempatan untuk menjadi mentor kelas membuat Ebook di Indscript Businesswomen University dan Indscript Creative sungguh pencapaian diri yang luar biasa.

Tidak mudah memang untuk bisa menyamakan irama dengan beliau yang mempunyai energi kuat dan berkharisma. Setiap hari sering ditunggu oleh para ibu pebisnis hanya untuk mendengarkan suaranya. Seperti "charging" untuk yang tidak bersemangat, begitu kata para ibu pebisnis.

Hanya doa dan selalu melakukan yang terbaik untuk membalas kebaikan beliau. Semoga perusahaan selalu sukses dan bisa melewati segala rintangan. Apalagi di masa pandemi sekarang ini. 

Namun demikian yang paling penting di atas segalanya adalah doa untuk kesehatan Teteh Indari Mastuti dan Keluarga.




Sukses Selalu ya Teteh.

Love, Audy Jo



Share:

Sudah Berani Kembali

 



Baca di Kompasiana:

Semua Akan (Kembali) WFO Pada Waktunya

Sudah Berani Kembali?

Sudah mau dua tahun apa belum ya?

Rasanya seperti liburan panjang yang enggak pernah habisnya. Mumet juga. 

Kalau dilihat dari sisi sebagai ibu rumah tangga ya mumet. Kerjaan ibu rumah tangga basicnya di rumah. Mulai dari bangun pagi sampai kembali ke peraduan. Setiap hari terus menerus.

Masuk masa pandemi rasanya tambah menjerit. Semua berkumpul di rumah. Me time yang dimiliki hilang sudah. Semua menjadi our time.

Tugas ibu rumah tangga rasanya menjadi double. Bukan mengeluh sih cuma berbicara kenyataan.

Sekarang ada kemungkinan mau kembali normal. Yang kerja kembali ke kantor. Yang belajar kembali ke sekolah.

Yeayy bersorak bolehkan! Kembali normal maksudnya. Tapi ada rasa sedih juga, karena sudah menjadi our time sekarang menjadi me time kembali.

Masalah baru mulai timbul.

Kebiasaan belajar secara online atau PJJ pembelajaran Jarak Jauh sudah menjadi kebiasaan yang tidak mau dilepas.

Percobaan masuk sekolah alias PTMT,  pelajaran tatap muka terbatas mulai dilakukan dan hasilnya untuk sang buah hati malas kembali ke sekolah, "mau di rumah saja". jawabnya.

Sebagai orang tua ada rasa kecewa, karena anak-anak tidak mau kembali ke "lingkungan pergaulan", berkomunikasi secara langsung.

Baca juga : Mendobrak Ketakutan

Maju mundur untuk mengambil keputusan. Apa anak-anak diikutkan PTMT atau tidak. Enggak bisa juga memaksakan. 

"Tuh kan, suspek Covid bertambah lagi!" Beberapa sekolah disinyalir kurang berhasil dalam menjalankan protokol kesehatan sehingga menambah jumlah pasien covid.

Kembali masuk kantor suatu kabar yang menggembirakan, khususnya buat para istri yang tiap bulan menerima gaji. 

Perasaan ketar-ketir sedikit banyak berkurang. 

Akhirnya, asap dapur akan kembali normal. 

Rasanya seperti tidak pada tempatnya, bekerja di rumah. Setiap hari seperti berpacu dengan waktu. Waktu pemecatan maksudnya. Was-was "waktuku bukan?"

Enggak usah munafiklah, kalau sudah dibilang "kerja dari rumah ya!" Alias masuk kotak dan di kobok-kobok seperti mengambil lintingan nama untuk dipungut menjadi pemenang.

Kalau performa selama ini ok masih bisa berharap sih. Tetapi kalau perusahaan masuk di ambang kebangkrutan percuma juga ngumpulin performa yang ok.

Kepengennya perusahaan sukses, karyawan terurus. Kalau sudah begini banyak berdoa saja.

Semoga saja dengan adanya rencana kembali ke "normal" bisa dipikirkan secara matang.

Yang terutama untuk setiap individu  belum mengerti dan harus mulai membiasakan melakukan protokol kesehatan yang ketat.


Love, Audy

Share:



AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Ebook Audy Jo







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement