Menu

 

Menerima dan Menjadi Teman Suami

 


Canva AI



Roma 15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.

***

Kejadian 24:50-51, 58 Lalu Laban dan Betuel menjawab: "Semuanya ini datangnya dari TUHAN; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya. 

Lihat, Ribka ada di depanmu, bawalah dia dan pergilah, supaya ia menjadi isteri anak tuanmu, seperti yang difirmankan TUHAN." 

Lalu mereka memanggil Ribka dan berkata kepadanya: "Maukah engkau pergi beserta orang ini?" Jawabnya: "Mau."




Perbedaan watak pada pasangan suami istri pada awal sebelum pernikahan biasanya tidak terlalu terlihat. Biasanya, yang paling jelas saat hati menyukai dulu adalah hal-hal yang menarik dari pasangan. Ini dirasa sangat kuat sehingga segala kekurangan di balik daya trik itu dengan mudah dapat dimaklumi. Misalnya saja, waktu pacaran dulu dia selalu tidak pernah lupa membawakan seikat bunga serta mengajak makan dengan setting tempat yang romantis di hari ulang tahun. Tetapi kebiasaannya bangun siang serta kamar kos yang acak-acakan tidak terlalu menjadi masalah. Si gadis waktu itu dapat memaklumi dan menerima itu karena ketertarikannya yang besar dari sikap si pria yang memberikan perhatian khusus. 

Inilah yang sulit dipertahankan saat mereka telah menjadi pasangan suami-istri. Padahal kekurangan dan kelebihan yang menjadi perbedaan inilah yang sebenarnya telah menyatukan mereka berdua. Diakui atau tidak, inilah kenyataannya: si gadis melihat temperamen si pria yang tidak ada dalam dirinya, yang membuatnya mengaguminya. Hal yang sama juga terjadi pada si pria.

Sebagaimana kita ketahui, temperamen akan tampak jelas setelah pernikahan berjalan. Masa pacaran tidak menentukan apakah pasangan suami istri mengenal dengan baik pasangannya. Kebahagian pernikahan yang baik akan terwujud ketika menerima tantangan firman Tuhan, "menerima satu akan yang lain sma seperti Kristus telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." 

Kalimat, 'andai saja saya tahu kamu begini …' atau "aku akan mengubahmu …' hanyalah ucapan yang sama sekali tidak menolong keadaan. 

"Aku menerima engkau sebagai suamiku apa adanya sama seperti Kristus telah menerima diriku."

"Situbu boru denganmu sarimatua", yang artinya "semoga juga putri menjadi temanmu sampai hari tua." Ini adalah ucapan-ucapan orang tua di suku Batak saat memberikan putri mereka kepada calon mempelai laki-laki. Pada waktu Ribka dipinang oleh hamba Ishak untuk menjadi istri majikannya, keluarga Ribka berkata, "Semua ini datangnya dari Tuhan; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya." Kemudian orang tua Ribka bertanya kepada anak gadisnya itu, "Maukah engkau pergi bersama orang ini?" Maka jawab Ribka, "Mau." Padahal Ribka belum mengenal calon pasangannya, Ishak.

"Bersediakah kamu menerima … (nama calon suami) yang ditanyakan pendeta, dan kita menjawab bersedia. Itu adalah tanda kita telah mengerti arti 'menerima' suami sebagaimana adanya. Tanpa paksaan, maka kita berarti juga sudah tidak segan-segan untuk menjadi teman yang dapat menjadi pendampingnya.

Menjadi teman dan pendamping tidak selalu ditunjukkan dengan berjalan setiap hari, makan bersama; pasti ada saat di mana keduanya secara fisik akan berpisah. Misalnya, ketika suami bekerja di tempat lain yang jauh, yang utama secara roh adalah kita bersama.  Ikatan persekutuan yang sangat intim ini tidak dapat dimiliki oleh siapa pun secara istimewa, selain oleh suami istri yang bersangkutan yang sah di mata Tuhan.

Berdoa bersama suami juga membangun komunikasi antara suami dan istri. Dari kegiatan ini maka suami akan merasakan bahwa kehadiran kita bukan sekedar menjadi istri dan ibu bagi anak-anak, tetapi juga menjadi teman yang dapat dipercaya untuk dapat membagi pergumulan hidup.


AJ

Sumber Hana

Share:

0 Comments:

Posting Komentar




AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

My Ebook







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement