Menu

 

Sebagai Penolong

 



Canva AI



Amsal 31:29-31 
Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. 
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. 
Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang! 


Di pedalaman Timor ada suku bernama Atoni. Pemuda-pemuda suku ini mempunyai kriteria khusus bagi calon istri yang ideal. Menurut mereka, seorang istri yang ideal adalah kalau ia dapat menolong suaminya mengumpulkan kayu api, menimba air, mengurus anak-anak, menenun dan membuatkan pakaian untuk keluarga, memasak, mengurus rumah, dan mengumpulkan hasil panen. Istri identik dengan mengurus pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak. 

Perbedaan antara pernikahan yang ditentukan oleh istiadat manusia dan pernikahan yang dikehendaki Tuhan menimbulkan pandangan yang keliru tentang seorang istri sebagai penolong suami. Istri mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak dianggap sebagai Ate (budak) dan suami sebagai Usif (raja). 

Istri yang demikian, secara psikologis, akan merasa rendah diri karena dia hanya sebagai pembantu dan pelayan suami. Ada kegelisahan di dalam hati, dan saya merasa sebagai istri tidak berfungsi dengan baik. Karena menganggap sebagai pembantu, setiap apa yang akan dilakukan harus menunggu perintah dari suami.

Ada yang pernah mengalami atau melihat situasi ini?

Seorang istri dari suku Dayak mempunyai cara tersendiri untuk menguatkan suami. Ketika musim menebang pohon untuk ladang, mereka menemani suami ke tempat kerjanya yang cukup berat. Pada musim pekerjaan yang berat ini, para istri biasanya mengurut tangan dan kaki sambil dengan sabar mendengarkan cerita suami. Biasanya cerita tentang banyaknya pohon yang mereka tebang dan kesusahan yang mereka temui. Istri dengan sabar akan mendengarkan cerita mereka lalu memberikan pendapatnya, memperkirakan berapa benih yang dapat mereka tanam sekaligus memperkirakan hasil yang akan diperoleh tahun depan. 

Kau Ada Untukku

Dari dua cerita yang berbeda di atas, benang merah yang bisa saya ambil, keduanya sama sama mempunyai tugas menjalankan roda kehidupan rumah tangga. Meskipun salah satu sisi merasa direndahkan sebagai budak. 

Istri yang Tuhan ciptakan sebagai penolong, kalau dia merasa sebagai budak, Tuhan harus menolong dia dulu sebelum dia menjadi penolong yang sebenarnya.

Tuhan memberikan hikmat kepada istri untuk memberikan masukan atau ide kepada suami. Belaian dan sedikit elusan lembut juga merupakan sentuhan ajaib yang dapat sedikit mengendurkan urat-uratnya. Memasak makanan kesukaan dan membuat suasana rumah segar juga merupakan cara yang dapat memberikan suasana 'adem' baginya. Dengan cara ini seorang istri juga menghargai pekerjaan suami/ Merupakan penghiburan dan penguat suami, sehingga suami istri tidak semakin asing, karena masing-masing hidup dalam dunia yang berbeda

Sobat, sekalipun mungkin sibuk mengurus anak dan pekerjaan rumah, itu tidak berarti kita tidak peduli kepada suami. Hendaklah kita melakukan pelayanan dengan pemahaman yang benar sehingga Tuhan memakai kita untuk membawa suami keluar dari situasi putus asa dan mengasihani di sisi di bawah " pohon ara"

Dalam hidup bermasyarakat, pada umumnya setiap individu ingin didengarkan, diperhatikan secara khusus, apalagi menyangkut kehidupan rumah tangga. 

Penyesalan Membawa Angin Segar

Saya pun mengalaminya, ketika awal rumah tangga itu berat ketika tidak ada yang mau mengalah. Semua mempunyai ego masing-masing. Merasa benar terhadap satu sama lain. Menurutmu, berapa lama kehidupan rumah tangga seperti itu? Cukup lama sampai bisa saling merendahkan diri.

Ada rasa seperti budak dalam rumah tangga ketika pekerjaan dipaksakan. Istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak dengan pengertian yang benar. Sehingga tidak merasa sebagai pembantu, sementara suami hanya bekerja di luar. Dan jika istri merangkap bekerja di luar, jika tidak memiliki pemahaman yang benar dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak, maka ia akan merasa diperlakukan tidak adil oleh keadaan. Padahal jika istri-istri yang bekerja di luar juga melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak dengan pemahaman yang benar, mereka akan menikmati dan menjadi kebanggaan suami. Inilah mahkota istri. 

Tuhan telah memberikan kenikmatan dan kebahagiaan khusus dalam diri seorang istri yang dapat mengurus rumah dan anak tanpa merasa diperbudak. Hal ini tidak dimiliki oleh suami. Istri dan rumah tidak bisa dipisahkan, karena mahkota istri ada di dalam rumah tangganya, bukan di luar. 


AJ
Sumber: Hana
Share:

0 Comments:

Posting Komentar




AJPena Online Class

Cerita Lain di Blog

Buletin My World

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

My Ebook







Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

Advertisement