Advertisement

Main Ad

Pembunuh Berdarah Dingin




Perlu ga sih? 

Kadang-kadang kita mene-mpatkan diri sebagai "pembunuh berdarah dingin" (tanda kutip yaa), atau  "provokator" (tanda kutip juga yaa).

Gambar memang banyak "berbicara", tapi kan hanya sebuah gambar, ga mengikuti bagaimana terjadinya sebuah gambar atau foto.

Jadi jangan mengambil kesimpulan seenaknya untuk sebuah gambar. Ah! Jangan suka kasak kusuk alias sirik.

"Weleh sombong banget ya", foto disana-disini, makan disana disini,  pinter dong! atur duit makannya, kan udah ada jatahnya 1 hari berapa, kalau memang ada jadwal makan diluar yaa dari hari apa menunya yang sederhana saja buat makan dirumah. Sisa kelebihan jatah pake deh buat makan diluar.

Lah ... setiap foto kan harus ambil yang bagus, ga pernah orang ambil foto yang jelek, kecuali mau ambil yang lagi kelaparan di Afrika sana.

Enggak mungkin lagi di restoran foto yg diambil gambarnya  lagi di pasar atau dipinggir rel kereta api dekat tempat pemukiman.

Kalau mau ikutan boleh tuh! Ikutan sampai terjadinya sebuah gambar. Yang diasumsikan foto borju. Yuuk ngumpul buat foto!

Pengen tahu sifat orang yang kita kenal? Gampang lempar saja sebuah "batu".
Batu itu akan sampai mana jatuhnya! Atau kembali lagi kekita. Ketahuan tuh! Bagaimana orang itu sifatnya, apa dia itu mulutnya ember, atau mulutnya usil, atau mulutnya ngenyek apalagi kalau ketahuan orang itu gila.

Ahh! Jangan coba-coba deh colek-colek yang "berdarah dingin", ntar kena "tembak" dor... dor .... Ehh! Pistol mainan.


Love, Audy

audyjo.blogspot.com

Post a Comment

0 Comments