Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan

Hobby Penyemangat

 




Entahlah, lagi lelah karena banyak alasan, mood kurang bersahabat. Meriang hilang timbul bikin malas juga. 

Menghentakkan kaki untuk membangkitkan semangat. Enggak bisa loyo ayooo semangat.

Sudah pasti yang terdekat mulai mengeluarkan geramannya melihat kebandelan yang terjadi, hehehe kartu kuning kemerahan.

"Ngerem mendadak" kayaknya ga bisa. Slowly,slowly.

Kemaren malam ada zoom dari Canva Affiliate, belajar buat konten masuk Pinterest. 

Hampir kelupaan, untung alarm pengingat  berbunyi. Nah, ini salah satu yang buat "kegeraman" lainnya. 

Alarm pengingat, berbunyi hampir setiap jam. Kadang yang tercinta semua pada "Mama!" Hahahaha

Ber-zoom ria dengan para Affiliate Canva asyik juga. 

Kemaren belajar cara membuat konten dan di upload ke Pinterest.

Sudah lama kenal Pinterest, tapi enggak dekat. Kalau ada perlu saja buka Pinterest. 

Mau buat konten dan perlu photo yang pas, baru cari di sana. Buanyakk banget photo cantik di sana.

Kemaren baru sedikit dapat pengertian tentang Pinterest.

Kebanyakan MedSos juga kadang mual hahaha. 

Enggak bisa semua diisi konten. 

Ya Sudahlah nikmati saja!



Love, Audy

Share:

Mawar dan Penjahat Putih.



Ceritadiri.com ~ Keributan terjadi di perkampungan Mawar. "Mawar kuning sudah melahirkan!" 

Begitu teriakan pagi ini yang menghebohkan semua penduduk.

Sebetulnya kehebohan tidak pernah terjadi. 

Mawar kuning terkenal di kampung karena sudah lama mengidamkan keturunan yang belum pernah didapat. Akhirnya, setelah bertahun menunggu, hari ini adalah yang spesial.

Sejak kecil Mawar kuning diajarkan untuk menerima keadaan. 

Masa pertumbuhan dilalui dengan penderitaan. Semua dilakukan supaya bisa menjadi diri yang cantik. 

Penjahat putih kadang datang mengganggu di dalam perjalanan dia berkembang. 

Ketika kuncup-kuncup anaknya muncul kadang tidak kuat menghadapi serangannya 

Untunglah dia hidup di perkampungan  ada yang menjaga dari si penjahat putih itu.

Kadang perih ketika serangan itu datang. Dan harus rela diambil segala kebanggaannya sebagai Mawar kuning si cantik, idola di kampung. 

Sebagian daun penutup dirinya harus rela di petik untuk membuang para penjahat yang menempel di daun. 

Setiap hari harus bermandikan percikkan obat untuk mematikan penjahat putih. 

Akhirnya, pengorbanan yang sudah dilakukan berakhir bahagia.

... muncul anak-anak cantik mawar kuning.

**

Berani Berkorban

"Mau menjadi luar biasa, perlu pengorbanan?"

Kalimat barusan bisa juga kita ganti dengan ... kalau mau kaya, perlu ... kalau mau cantik, perlu ... kalau mau kurus, perlu ....

Semua pakai kata nyambung, perlu!

Semua perlu pengorbanan.

Pernah lihat bunga mawar? Setiap pucuknya akan berkembang, pasti didatangi hama atau kutu yang warna putih. 

Perlu pengorbanan bunga untuk dibersihkan. 

Ada dahan yang penuh kutu kita potong, kita semprot dengan obat anti hama. Barulah bisa berkembang dengan cantik.

Tanaman Kaktus pun begitu. Siram dengan sedikit air pasti akan bertumbuh cantik.

Begitu pun dalam kehidupan kita, banyak pengorbanan yang perlu kita lakukan. 

Sebagai Mama apa sih yang tidak kita perbuat untuk anak-anak kesayangan kita.

Sebagai Mama yang bekerja, ah ... banyak yaa pengorbanan yang harus dilakukan. 

'nd

Semua yang dilakukan untuk kebaikkan dan impian yang ingin dicapai.

"Adakah impian yang belum tercapai?"



Love, Audy


Share:

Goreng ganti Kukus, Mau?





"Minyak goreng masih langka?"

Heboh minyak goreng langka kayaknya masih jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Masih jadi cerita bersambung kalau di rumah.

Untuk sekarang ini, bersyukur sudah bisa beli di koperasi atau di Indomaret dekat rumah. Kalau butuh beli kalau enggak, yaaa enggak usah. Mengutip kalimat, "Kok, gitu aja repot" dari Alm Gus Dur, kayaknya tepat nih kalau bahas seperti ini.

Sekilas dengar di ..., ada tokoh nasional bicara, "ibu ... ibu memang ga ada cara lain selain menggoreng? Kan bisa dikukus, direbus kalau masak!"

Karena beliau tokoh nasional, tentu ada netizen yang pro dan kontra.

Enggak nyangka juga sih ada jawaban beragam yang dilontarkan di MEDSOS. Misalnya, jawaban yang diberikan, "Kalau goreng kerupuk diganti rebus kerupuk memang bisa! Atau goreng tempe pakai rebus tempe! Kasihan dong, para penjual gorengan. Semua dagangan direbus atau dikukus semua!"

Jadi geli sendiri dalam hati, mendengar jawaban dari netizen. Ada benarnya juga. Dua-duanya benar. Memang susah kalau sudah bicara selera. Apalagi gorengan yang dimaksud, juga sebagai mata pencaharian sehari-hari.

Menebak kelangkaan minyak goreng sepertinya berhubungan dengan masa masuk di bulan puasa dan sebentar lagi lebaran. Biasanya harga melonjak tinggi.

Mengutip catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga rata-rata minyak goreng kemasan bermerk I di pasar tradisional seluruh Indonesia adalah Rp 20.450/kg pada 15 maret 2020 konversi ke liter minyak goreng Rp. 17.996/liter. Sekarang, setelah Harga Eceran Tertinggi (HET) diberhentikan, "para" minyak goreng naik tajam. Kemasan 1 liter rp. 23.900 dan kemasan 2 liter menjadi 47.800. Walaupun tidak sama harga diberbagai tempat.

Kalau mau memikirkan harga melonjak sepertinya dari dulu saya tidak akan membeli minyak goreng buat masak. Jadi sedikit tidak ambil pusing dengan harga yang ada. Memang tetap cari harga yang termurah, seperti diskon atau promo di setiap swalayan.

Kadang ketemu merek yang entahlah, kok tiba-tiba baru ada. Kayaknya kesempatan dalam kesempitan buka "lahan" jualan minyak goreng. Suka takut juga dengan merk yang kurang dikenal.

Pagi tadi, lagi masak tiba-tiba Ibunda nyamperin di dapur, "Dy, tahu enggak merk "ini" ternyata jelek loh! Yang bagus yang "itu", terbuat dari 'kelapa'. Jadi kalau pilih jangan yang dari 'kelapa sawit'."

"Iya betul, tapi yang dari 'kelapa' harganya dari dulu aduhai. Mau beli dulu suka pikir dua kali. Jadi ngakalinnya, minyak mahal untuk menumis saja. Kalau gorengan banyak pakai minyak sawit yang murah tapi bagus. Sampai segitunya menyiasati cara pakai minyak goreng di dalam rumah tangga.

Kalau untuk menu sih, sesuai anjuran dokter sudah harus masak rebusan atau kukusan. 

Pertama sih tidak terlalu dirisaukan. Setelah beberapa bulan dengan menu tanpa minyak goreng, akhirnya nyerah juga. Setiap makan pasti mulai datang rasa mualnya. Jadi, sedikit nakal tidak mematuhi larangan nasehat dokter.

Setiap hari menu yang dibuat harus ada menu lauknya. Seperti Ananda di rumah, setiap hari harus ada menu gorengan yang tersedia. Kalau tidak ada bikin enggak semangat mau makan.

Nasehat sih sudah disampaikan. "Kalau makan gorengan bisa nyeri tenggorokannya. Jadi detoks saja ya."

Tetap jawaban, "ga enak, Ma!"

Ya sudahlah, pakai dengan bijaksana.

Minimal tiga kali pemakaian minyak bekas, setelah itu dibuang.

Bagaimana di rumah ibu-ibu? Apa ada kiat khusus?



Love, Audy Jo

Reff:
Kompasiana
Google




Baca Juga Kompasiana


















Share:

Sini Sini Beli




Soal sadar lingkungan, enggak belanja online saja. Belanja offline, sepertinya sama juga. 

Pemakaian kantong plastik masih dilakukan.

Kadangkala sadar akan keberadaan kantong plastik.

Tetapi tempat sampah di rumah memerlukan wadah untuk mengumpulkan kotoran yang akan dibuang. 

... Nah, tentu kantong plastik bekas belanja dipakai  lagi.

Belanja membawa kantong belanja sendiri, adalah salah satu yang bisa dilakukan. 

Masalahnya kalau belanja lebih banyak dari biasanya kantong belanja yang ada, tidak bisa mengakomodasi seluruh belanjaan. 

"Benar enggak?"

Sebetulnya dengan membawa kantong belanja menjadi irit belanja hehehe. 

... Ternyata salah!

Mau belanja, ya belanja saja.

Apalagi kalau ketemu yang lagi promosi.

... Uhuuui ... borong deh!

"Ada enggak  resi belanja selain kertas?"

Rasanya belum pernah terima bukan kertas resi belanja. 

Nah, yang seperti ini, berapa banyak pohon yang sudah ditebang?

Di masa pandemi seperti sekarang ada keuntungannya sendiri.  

Belanja via online lebih disukai karena pusat perbelanjaan banyak yang tutup. 

Memerlukan barang tidak usah mengantri. Lagian kan pemerintah mengeluarkan kebijaksaan pengetatan perilaku masyarakat. 

Diharapkan, pandemi cepat berlalu


Berpikir dengan belanja online, pasti lebih irit dalam keuangan.

Ahhh, ternyata salah!

Malah lebih boros. Sedikit-sedikit belanja. 

Apalagi di rumah saja. Tampilan cantik di layar handphone tak tertahankan,  memanggil-manggil minta dibeli.

"Sini ... sini ....!"

"Sudah borong apa hari ini?"



Love, Audy

Share:

Paket, Bu!





Saling Berlomba Memberikan Penawaran Yang Menarik


Paket, Bu!

Belanja Online jadi booming karena adanya pandemi. Disalah satu sisi sepertinya menjadi pemborosan karena telunjuk cepat bergerak memilih barang yang bagus di layar telpon genggam, benar enggak?

Rasanya kasihan atau gembira ya? melihat bapak kurir pengantar paket bolak-balik mampir kesetiap rumah. Kadang pagi, siang sore atau ke malam. Iya, mereka ada jadwalnya. 

Masalahnya si penerima paket enggak ada di rumah. Sedangkan kalau dari sisi banyaknya paket yang diantar tentu ada kompensasi yang bisa didapatkan. Nah! kasihan atau senang?

Baca postingan teman di facebook bikin geli karena hal yang sama baru saja terjadi.
Ada yang teriak paket di depan pagar rumah. Enggak ada reaksi dari dalam rumah. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. 


Baca juga : Tetangga Baru 

Padahal yang teriak kencang juga.

"Paket JNE. Siang bu!"

Tetap tidak ada reaksi. Aku pun diam saja. 

Lah! Kenapa musti clingak-clinguk keluar jendela. Enggak ada nama yang disebut sama yang antar paket.

Kebiasaan pengantar paket datang setiap hari hanya untuk tetangga depan rumah atau tetangga samping. Dari pagi sampe sore biasanya datang motor antar paket. 

Tetangga depan rumah, keluarga kecil dengan dua orang anak balita dan seorang nenek. Kalau dilihat keluarga ini hampir setiap hari belanja online. 

Baca juga : Paket, Bu!

Kepoin Tetangga

Informasi yang didapat selain Kepala keluarga bekerja di bank di kota, istri mempunyai usaha berjualan produk baju. Kadang aliran keluar masuk paket terlihat dari rumah depan atau beberapa paket dari online shop. 

Kebiasaan pak kurir barang suka berteriak di depan rumah karena nenek yang menjaga cucu kurang baik pendengarannya. 

Sama juga dengan tetangga di samping rumah, banyak juga belanja online. Jadi sudah biasa melihat kurir paket barang dengan nuansa baju merahnya mampir. Iyaa kurir dari JNE sepertinya sudah biasa terlihat di perumahan sini.




Kirain Buat Tetangga

Jadi kalau ada yang teriak "paket!" ya pasti untuk mereka. Kasihan juga kurir yang antar paket hahaha.... Lama memanggil. Baru deh ada ide baru sepertinya. 

"Bu Audy Jo. Ada paket!"

What! Namaku disebut. Hahaha paket buku pesanan datang.

Aduh pak !

Baru dapat ide yaa memanggil nama pemilik paket.

Panik, karena masih memakai baju tidur. Hihihi apa boleh buat. Jalan sambil menunduk menghalangi posisi badan. 

Untung bapak pengantar paket berdiri lebih rendah dari pagar. Jadi penampilan pembantu tidak kelihatan. Ampun memalukan.

Kenal Perusahaan Pengiriman Barang

JNE atau nama resminya PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir, perusahaan yang berpusat di Jakarta ini bergerak dalam bidang pengiriman dan logistik. Sudah cukup lama berdiri dari tahun 1990. Sebagai perusahaan yang kompeten sudah pasti tidak ada masalah dalam hal pengiriman paket ke daerah mana saja.

Mencari kantor cabang terdekat juga tidak sulit karena sekarang hampir disetiap sudut kota sudah banyak kantor cabangnya.

Beberapa produk dari JNE yang ada sangat membantu dalam pengiriman barang, dokumen dan jasa lainnya tersedia tinggal bagaimana pilihan apa yang mau dkirimkan. 

Apalagi dengan sudah tersedianya aplikasi yang bisa di download dari play store membuat lebih mudah lagi untuk mengecek produk dan waktu pengiriman paket. Semua terpantau dengan aplikasi.

Sedikit saja sih mau keluarin unek-unek dengan pengalaman yang pernah ada. Pernah menemukan biaya pengiriman berbeda kantor satu dengan yang lain. 

'nd

Walaupun akhirnya menemukan kantor JNE yang pas di hati. Susah juga memilih perusahaan pengantaran lain, karena sudah terbiasa dengan si merah ini.

Semoga, paket kiriman cepat sampai rumah ya, Pak!



Love, Audy


Share:

Memoar







Perjalanan hidup kadang perlu dituliskan sebagai pembelajaran bagi para pembacanya. Tidak semua sama alur hidupnya.

Kadang sebagai manusia merasa diri sudah paling terpuruk. Ternyata dengan membaca buku seperti Memoar ini, baru tersadar, "ternyata aku mengeluh untuk hal sekecil ini!"

Iya, masih banyak tekanan berat yang dialami orang lain.

Menangis adalah salah satu obat, selain menulis yang bisa membasuh luka di hati. Nah, maka begitulah fungsi air mata yang Tuhan sudah berikan untuk umat manusia.


Baca Juga


Rasanya kalau mau diceritakan banyak yang ingin dikeluarkan. Salah satunya seperti ini. Tulisan ada di Blog. Disimpan, untuk suatu saat kelak menjadi bahan bacaan untuk di share ataupun menjadi sebuah Ebook.

Selagi orang di rumah masih memperhatikan, begitu pulah sang kekasih, tetap semangat yaa mengarungi hidup. 




Semoga, tulisan di buku Memoar menjadi inspirasi para perempuan di luar sana dengan keluhan "aku ga bisa apa-apa"


Tetap semangat


Love, Audy


#audyjo #writer #penulis #memoar #biography

Share:

Bertahan Untuk Yang Gratis

 




Lelah sudah pasti dengan segala prosedurnya, tapi apa boleh buat. Hari ini membawa putri kecilku ke dokter gigi.

Pertama kali mencoba BPJS di Bandung, setelah beberapa tahun di BSD. 

Pertama kali datang dulu ke Klinik Surya Sumirat, yang ternyata dirujuk ke Faskes selanjutya,  dikarenakan tindakan yang diambil lebih rumit.

Jadilah belajar mengenal rumah sakit yang lain. Seperti sekarang ini mencoba Faskes yang lebih tinggi.


Yang biasanya kalau berbayar semua cepat penangananya, sekarang harus kesini, kesitu karena semua ada prosedurnya.

Ke bagian informasi dulu daftar, terus di fotokopi surat rujukan dari Faskes pertama Surya Sumirat. Setelah daftar di Informasi berlanjut ke bagian penerimaan pendaftaran khusus untuk diarahkan ke dokter yang dituju dan mendapatkan nomer antrian. Menunggu untuk dipanggil sesuai dengan nomor antrian.

Ternyata Dokter datang pukul 10.00 lewat, Pasien masuk satu persatu. Lamanya menunggu antrian.

Pukul 10.00 waktu makan snack, biasanya makan apel. Menunggu lagi ampun ... masuk ke waktu makan siang belum dipanggil. Akhirnya beli nasi bungkus dan bakso yang ada di seberang rumah sakit. Maoam di mobil bertiga. Susah dong makan di dalam rumah sakit. 

Sempat ketiduran karena udara dingin AC mobil yang dinyalakan setelah beberapa jam di mobil kepanasan.

Akhirnya, pukul 13.30 bersiap masuk ruangan. Psst ada cerita sedikit. Bla ...bla.. ga boleh bu upload di medsos simpan di Galeri saja. Mau tahu cerita serunya blogpri aja hehehe bahasa baru apa ini.


Akhirnya, selesai juga jadwal ke dokter gigi. Berlanjut putri kecil yang sudah tidak kecil lagi minta beli perlengkapan dalam perempuan. Keren bayar sendiri dia hahaha. Mama pura-pura enggak lihat. 

Selesai memberi sogokkan chatime, Pulang! Serunya.


Ampun! Luar biasa hari ini.



Love, Audy



Share:

Nulis Bareng

 



Kadang kalang kabut kalau ada yang bertanya, "nulis apa sekarang?"
Jawabnya bingung. Karena yang ditulis banyak hehehe. 

Ada nulis di blog dengan berbagai tema. Beberapa antologi juga sedang dibuat.



Seperti nulis bareng di batch 15,16,17. Judul yang ditawarkan menarik hati, karena lebih ke emosi untuk keluarga.

Setiap cerita yang dibuat sudah pasti membuat air mata menderai.

Menanti dengan sabar untuk terbitan buku Antologi berikutnya.

Dikeheningan subuh adalah yang terbaik untuk menuliskan sebuah cerita. Mengikuti kelas nulis bareng batch 15, 16,17 membuat mata ini perih. Rasanya deraian air mata tak tertahankan. Serasa kembali mengulang masa indah itu. 

Setiap tulisan menjadi warisan kelak. Bisa dibaca ulang.

Ah, sedikit melow pagi ini setelah menulis Surat Untuk Putraku.

Nantikan yaa. Dijamin meleleh


Love, Audy


Share:

Belajar Soft Selling

 



Jualan lama yang masih berjalan, sekarang nongol lagi hehehe.

Berjualan secara soft selling, harus banyak bercerita. Masalahnya sudah bercerita pada baca aja ga ada yang beli hehehe. Apalagi kalau lihat harganya. Ihh! Dimana-mana juga harga berbicara. Ada sparkling emasnya nih!

Belajar memperkenalkan produk dengan poster di Canva seru juga. Jadi tambah pelajaran deh cara menjual produk dengan cantik.

Semoga jualan tambah laris manis yaa.
Pakai parfum biar wangi untuk menyenangkan keluarga, khususnya buat yang tercinta❤





Love, Audy 

Kelas Canva ABCD Batch 22
Tugas ke 7
Desain poster produk dengan Reflections Effect

Share:

Belajar Menjadi Mentor Yang Baik




Tetap yaa isinya nulis. Nulis ga usah bagus kok! Nanti.diajarin nulis standar aja. 

Enggak bisa dibilang nulis itu jelek yaa ... karena semua harus berlatih terus.

Di kelas Ebook atau buku digital enaknya kalau nulis salah bisa dihapus. Walaupun sudah terbit bukunya. 

Namanya juga digital gampang hapusnya.

Mulai tahun 2022 ada tambahan ilmu baru dalam bidang Photography yaa,  biar berani ikutan Challenge Photography yang banyak di Instagram.

Sudah daftar buat tgl. 1 - 3 Januari?

Begitulah kira-kira iklan dari kelas Ebook yang dibuat untuk jadwal bulan Januari 2022. Lebih banyak ke penulisan, khususnya menulis di Blog.

Ada juga tambahan belajar photo. Bersyukur banyak mengikuti kelas online dari tahun kemaren. Terpaksa enggak juga sih. Karena pandemi yang terjadi jadi banyak di rumah.

Mengisi waktu dengan yang berguna daripada banyak menonton drakor. Walaupun masih menonton tetapi presentasinya tidak besar. Menonton juga perlu karena menambah referansi untuk penulisan cerita menjadi Ebook.

Senang saja menulis untuk dijadikan warisan.

Sebagai Mentor kelas menulis berharap semoga semua murid menjadi pandai membuat Ebook dan bisa menjadi Ebook yang bermanfaat juga. Semoga yaa.


Love, Audy

Share:

Teman Satu Visi Belum Didapat

 



Mencari teman yang satu visi ternyata tidak mudah.

Sudah membuat Flyer ngajakkin yang mau bantu "tidak ada suara" kecuali di kelas ebook yang berbayar.

Pertanyaan dalam hati apakah sesulit itu?

Ah, semoga bukan yaa hanya pada belum tertarik.

Trus! Apakah berputus asa? Ehee nope!

Masih bisa dihandle sendiri dong! Sebetulnya gampang mengurus seperti ini. Beruntung background dari Sekretaris jadi sudah biasa underpressure heemmm tulisan disambung enggak yaa?

Kadang menulis suka menduga duga bemar enggak ini cara penulisannya. Tapi sampai sekarang belum ada yang koment alias silent Hihihi kayak silent in the Lamb. Apalagi itu!

Ah, cari terjemahannya sendiri. Peace ...

Oot deh!

Sampai saat ini tgl. 30 Desember belum ada info jelas yang mau membantu. Kecuali ada dua orang yang sudah menulis di GForm. Masalah yang ada mereka belum selesai buat Ebooknya.

Semoga teman yang satu visi bisa didapat yaa ... berharap.



Love, Audy

Share:

Bom Waktu Setahun Sekali



Baca Juga di Kompasiana

Mendekati hari lebaran suka bikin deg-degan, karena seperti tahun sebelumnya ART pasti sudah berganti. 
 
Kadang sudah dibaikin malah enggak kena sepertinya.  
 
Kok rasanya lebih banyak keluar uang kalau tiap lebaran. Mulai dari membeli bahan kain, kue-kue dan lain sebagainya alias mempersiapkan sogokkan supaya ART bisa balik lagi kerja di rumah. 
 
Kenapa sih ngomong begini, kayaknya suka enggak rela. 
 
Udah dari baru datang sebagai ART , diajarin, diarahkan segala macam keahlian supaya bisa sesuai selera dengan keinginan keluarga. 
 
Entahlah apa karena aku punya indera ke enam, jadi kadang tahu ART mana yang cocok dengan keluarga. 
 
Biasanya bulu kuduk suka berdiri melihat cara kerjanya. 
 
Maksudnya kalau cari pacar sepertinya nyambung kalau lagi bicara. 
 
Kalau ada  ART, kerjaan sebagai ibu rumah tangga menjadi lebih mudah. Olah raga pagi bisa dilakukan tanpa ada gangguan. apalagi rumah cepat bersih dan pekerjaan rumah tangga lainnya beres. sehabis olah raga bisa bersantai sejenak dan setelah itu bekerja secara online, ahh hidup menjadi lebih mudahhh 
 
pengennya memilih ART tuh yang umur enggak usah muda banget dan ga tua juga. tapi pada prakteknya gak bisa seperti itu.  
 
Mencari dengan berkeliling di komplek perumahan sudah biasa, bertanya-tanya. Mulai dengan obrolan basa basi sampai akhirnya tujuan utama dipertanyakan. 
 
Biasanya menunggu beberapa hari untuk mendapatkan info ART yang mau bekerja. Karena kelamaan menunggu akhirnya pelerkaan rumah tangga sudah bisa di urus sendiri walaupun dengan tenaga seadanya. 
 
Kalau sudah begitu, keinginan punya ART lagi pupus sudah. Malas menambah orang baru dalam rumah. 
 
 
Love, Audy
Share:

OMicron





Baca juga di Kompas

Waspada Omicron

Rasanya sudah berdamai dengan keadaan. Tidak lagi takut dengan pandemi Covid 19.  Berusaha untuk hidup damai dengan bung Covid. 

Protokol yang dianjurkan semua tetap dilaksanakan. Memakai masker, Cuci Tangan dan jaga jarak masih tetap dilakukan.

Terlalu nyaman hidup dengan bang Covid sekarang irama kehirupan mulai berbeda lagi. Barangkali terlalu nyaman sehingga semua aturan protokol kesehatan sudah mulai ditnggalkan. Haha hihi sudah kelhatan giginya dimana-mana. Lupaaa ...

Mau protes? Urusan loe apa! Takut juga jadi mau negur. Bagian Satgas kalau pas diperlukan enggak ada. Cari dimana yaa?

Sampai sekarang anak-anak masih dijaga ketat untuk tidak pergi ke luar rumah. Tetapi ternyata anak-anak malah jadi anti keluar rumah, walaupun hanya ke depan rumah untuk berjemur matahari. PPKM yang dilakukan sekolah untuk si kecil malah tidak berjalan. Hanya satu kali pergi ke sekolah setelah itu macet enggak mau pergi sekolah. "Lebih enak di rumah, Ma!" OMG

Ada sisi positip dan negatif dari masa pandemi ini. dilihat dari segi positif, anak-anak terlihat ada di rumah kekuatiran dalam pergaulan hilang karena semua dalam kendali orang tua. Sisi negatif yang terjadi mereka hanya memegang gadget dari pagi sampai malam dan terlalu tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya, apalagi disuruh bergaul dengan teman lainnya. "Malas, Ma!"

Sebagai Orang tua kadang miris juga, gimana kalau sudah kembali normal? Sekarang pun sudah bisa dibilang setengah normal, karena sudah bisa keluar rumah dengan protokol yang ketat. Bertemu dengan sahabat pun memakai masker. Tetapi anak-anak tidak bergeming untuk bertemu dengan teman sekolah atau teman kuliahnya. walaupun sudah dibilang "pakai masker boleh kok bertemu dengan teman-teman!"

Ini baru cerita dari hasil pandemi Covid 19. Sekarang keluar lagi varian baru yang namanya keren Omicron. Sekilas lihat berita di TV.  Sudah enggak terlalu memperhatikan sih soal bung Covid, anggap saja seperti lagi nonton gosipnya para artis.

Sudah enggak bisa apa-apa menghadapi "gosip" ini. Tunggu informasi akurat saja dari pemerintah. Peraturan apalagi yang akan keluar. 

Yang dilakukan sekarang hanya tetap melaksanakan protokol kesehatan standar pandemi.

Isu gelombang ketiga mulai terdengar. Sedikit ketakutan mulai terasa. Duh jangan lagi deh!

Berharap pemerintah cepat mengambil keputusan. Karena hampir semua tempat liburan sudah bisa di datangi. 

Sebagai perempuan berbisnis secara online sedikit ah bukan lagi sedikit, tetapi sudah menutup keuntungan penjualan kosmetik. Yang biasanya bisa menjual lipstik sekarang terkendala walaupun di sisi lain penjualan pensil alis dan kosmetik area mata masih boleh diharapkan.

Sekarang hanya bisa berbicara dengan sorot mata. Perlu juga nih dipikirkan ide membuat bahasa isyarat mata. Ternyata enggak usah berpikir terlalu jauh kan sudah ada bahasa isyarat untuk orang bisu tuli.

Semoga yang dipikirkan tidak terjadi. Bawa dalam doa supaya bung Omicron enggak mau mampir ke tanah air kita. 


Love, Audy



Share:

Sudah Berani Kembali

 



Baca di Kompasiana:

Semua Akan (Kembali) WFO Pada Waktunya

Sudah Berani Kembali?

Sudah mau dua tahun apa belum ya?

Rasanya seperti liburan panjang yang enggak pernah habisnya. Mumet juga. 

Kalau dilihat dari sisi sebagai ibu rumah tangga ya mumet. Kerjaan ibu rumah tangga basicnya di rumah. Mulai dari bangun pagi sampai kembali ke peraduan. Setiap hari terus menerus.

Masuk masa pandemi rasanya tambah menjerit. Semua berkumpul di rumah. Me time yang dimiliki hilang sudah. Semua menjadi our time.

Tugas ibu rumah tangga rasanya menjadi double. Bukan mengeluh sih cuma berbicara kenyataan.

Sekarang ada kemungkinan mau kembali normal. Yang kerja kembali ke kantor. Yang belajar kembali ke sekolah.

Yeayy bersorak bolehkan! Kembali normal maksudnya. Tapi ada rasa sedih juga, karena sudah menjadi our time sekarang menjadi me time kembali.

Masalah baru mulai timbul.

Kebiasaan belajar secara online atau PJJ pembelajaran Jarak Jauh sudah menjadi kebiasaan yang tidak mau dilepas.

Percobaan masuk sekolah alias PTMT,  pelajaran tatap muka terbatas mulai dilakukan dan hasilnya untuk sang buah hati malas kembali ke sekolah, "mau di rumah saja". jawabnya.

Sebagai orang tua ada rasa kecewa, karena anak-anak tidak mau kembali ke "lingkungan pergaulan", berkomunikasi secara langsung.

Baca juga : Mendobrak Ketakutan

Maju mundur untuk mengambil keputusan. Apa anak-anak diikutkan PTMT atau tidak. Enggak bisa juga memaksakan. 

"Tuh kan, suspek Covid bertambah lagi!" Beberapa sekolah disinyalir kurang berhasil dalam menjalankan protokol kesehatan sehingga menambah jumlah pasien covid.

Kembali masuk kantor suatu kabar yang menggembirakan, khususnya buat para istri yang tiap bulan menerima gaji. 

Perasaan ketar-ketir sedikit banyak berkurang. 

Akhirnya, asap dapur akan kembali normal. 

Rasanya seperti tidak pada tempatnya, bekerja di rumah. Setiap hari seperti berpacu dengan waktu. Waktu pemecatan maksudnya. Was-was "waktuku bukan?"

Enggak usah munafiklah, kalau sudah dibilang "kerja dari rumah ya!" Alias masuk kotak dan di kobok-kobok seperti mengambil lintingan nama untuk dipungut menjadi pemenang.

Kalau performa selama ini ok masih bisa berharap sih. Tetapi kalau perusahaan masuk di ambang kebangkrutan percuma juga ngumpulin performa yang ok.

Kepengennya perusahaan sukses, karyawan terurus. Kalau sudah begini banyak berdoa saja.

Semoga saja dengan adanya rencana kembali ke "normal" bisa dipikirkan secara matang.

Yang terutama untuk setiap individu  belum mengerti dan harus mulai membiasakan melakukan protokol kesehatan yang ketat.


Love, Audy

Share:

Sudah Absensi?

 






Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu. 




Yang namanya absensi mah sudah biasa yaa ceu!

Yang luar biasa itu absensinya dimana gitu.

Setiap bulan absensi supaya tahu rapornya masih merah, kuning atau hijau. Seperti lampu jalanan. 

Capek juga, karena harus seharian kerjanya cuma menunggu. Dari tempat satu ke tempat lain, terus muter-muter menunggu hasilnya. Untung tempatnya besar dan banyak jajanan jadi enggak kerasa kalau lagi menunggu.

Kepo dari tadi ngobrolin apa hahaha ....

Biasa kalau sudah dilihta alias diatas lima puluh tahun. Harus sudah sering cek diri. Memang sih sudah tahu ... semua akan kembali ke atas. Yang namanya usaha boleh dong. Biar tahu pakemnya. Apa yang boleh dan enggak boleh. Mau umur panjang bolehkan?

Akhirnya, absensi di paraf, "ya, boleh ketemu tiga bulan lagi!"

Horee nilainya hijau, walaupun masih kurang pas. Masih butuh perbaikan extra keras. Olah raga yaaa!

Sedikit berbesar hati untuk hasil yang didapat. Jalan yang selama ini dilakukan sedikit banyak bisa dijalankan. Sambil memperhitungkan jalan yang salah atau tidak usah dilalui.

Semoga usaha yang dilakukan berbuah manis, dan umur panjang bisa didapat. Tuhan mampukan aku yaa. 

Rasanya ada sedikit sentilan dalam hati. Aku kok egois ya. Semua boleh dilakukan sedangkan hubby mempersilahkan saja. Sedangkan beliau tidak pernah mau ikutan absensi. Karena beliau sudah berpasrah diri sepenuhnya. Enggak anti juga sih, kalau memang sakit dan harus absensi yaa pergi juga.

Kalau sudah begini, sudah harus mulai berpindah pelayanan yang gratis. Karena lumayan "Oleh-oleh" dari tempat absensi bisa menguras "kantong" lebih dalam.

Menyesakkan, jalan satu-satunya harus mencari uang sendiri benar enggak!

Berharap harus ke yang di Atas yaaa ....

Salam sehat!

Sudah Absensi?


Love, Audy



Share:

Mau Belajar Setiap hari?

 


Perlu Belajar Setiap Hari - Kompasiana

Berpacu dengan waktu, kalimat yang sering di share, ke teman-teman terdekat kalau mereka bertanya,"kenapa mau jadi penulis?"

Kadang jawab seadanya saja,"suka saja!"

Berpikir ulang juga sering dilakukan, setelah terlontar kalimat tersebut. Seperti enggak ada tujuan saja. 

Menjadi penulis enggak secepat itu juga, masih butuh proses. Untungnya di wadah tempat saya belajar, Indscript Creative  tercinta banyak kelas-kelas pembelajaraan yang bisa  diikuti. 

Apalagi sekarang ada pembelajaraan baru via You tube yang dilakukan oleh Teteh Indari Mastuti, Ceo dan Founder Indscript Creative. 

Salut buat beliau, enggak pernah capainya memberikan pembelajaraan buat para perempuan. Keren ih!

Jadwal setiap sore, pukul 16.00 Wib biasanya ada sharing live pembelajaraan tentang dunia bisnis.



APA INVESTASI TERBAIK DI MASA KRISIS





Lihat juga: 100 JUTA DARI WHATSAPP




Sebagai penulis, bisa juga dikaitkan dengan pebisnis. Karena apa yang kita tulis tujuannya bisa dibaca banyak orang. Tentu memerlukan tehnik khusus untuk melobi para pembaca.

Yang namanya berilmu bisa darimana saja. Yang penting, "kosongkan gelas", untuk menerima pembelajaraan yang baru.


Love, Audy Jo 

Reff:

Indscript Creative 

Indscript Bussineswomen University 


Jangan lupa subscribe yaaaa



Share:

Perlu Minum Banyak atau Sedikit?

 




Minum banyak atau sedikit saat minum obat?

"Harus banyak minum!" Kalimat dari satu orang, "biar lancar ginjalnya. Katanya sih dari informasi biar enggak mengendap di ginjal."

Dari informasi lain, "minum tuh sedikit saja, seteguk gitu. Jangan banyak-banyak. Nanti buat kembung!"

"Dari dua pernyataan di atas, kira-kira yang mana menurut Anda yang benar?"

Menurut saya, dua-duanya bisa juga dipakai. Kalau dipikir secara umum. Kembali lagi standar minum yang dianjurkan 7-8 gelas sehari sudah bisa membuang residu obat dalam tubuh dengan catatan ginjal Anda dalam keadaan baik.

Minum secara banyak bisa melancarkan gerakkan tablet atau kapsul dari mulut, ke Perut.

Kadang ada yang menelan tablet  secara langsung. Kebiasaan ini tidak baik dan biss menempel di langit-langit mulut yang menyebabkan rasa pahit.  

Air juga melancarkan tablet sehingga tidak tersedak ditenggorokkan.

Pernah dengar dari saudara saya, kalau ibunda beliau minum obat pakai pisang, karena tidak tahan dengan pahitnya obat yang dimakan. 

Minum air putih berlebih juga tidak baik karena kalau malam hari,  akan sering ke "kamar mandi". Jadi kalau tablet yang diminum malam  ditukar ke pagi barangkali lebih baik.

Tadinya, setiap malam saya minum obat yang sudah harus rutin setiap hari dengan air segelas penuh. Dengan harapan yang saya minum cepat larut dan keluar. Ternyata yang ada, malah tidak bisa tidur nyeyak, karena harus sering ke kamar mandi.

Lelah dan juga mengantuk di pagi harinya. 

Sekarang, karena saran dokter yang menangani saya, minum obat hanya seteguk atau secukupnya saja. Ternyata, betul juga frekuensi ke kamar mandi jadi berkurang.

Kebiasaan minum banyak yang dilakukan malam hari, diganti ke pagi, dan siang hari. Minum banyak saya lakukan sampai sore saja.

Sebetulnya, berharap dengan minum air putih yang banyak, wajah dan kulit tidak cepat keriput dan tetap awet muda.Lol.

Itu sih, hanya seijin Tuhan Yang Maha Kuasa saja yaa. Ah! Siapa tahu, daripada tidak melakukan apa-apa, ke salon mahal jadi cari cara yang mudah dan tidak mengeluarkan biaya, minum air putih saja yang penting bersih dan matang.

Love, Audy

Reff:

Kanal Liputan 6

Lifestyle Okezone

Pic. pixabay publikdomainpictures

Cek Tulisannya di Kompasiana

Share:

KELAS PEREMPUAN GRATIS



๐Ÿ“•KELAS PEREMPUAN๐Ÿ“•





Selamat Pagi Miss Semua ....

Belajar tidak mengenal usia.
Mau muda ataupun tidak muda.
Selama Tuhan masih memberikan kita kesempatan. Pergunakan waktu dengan baik.

Sesuatu yang baru bisa menambah pengetahuan kita.
Yang belum tahu, ayo belajar tahu.
Susah? Semua yang pertama itu susah, apalagi tidak mencoba melakukan.

Miss sudah kenal Ebook?
Tempat bertanya Ebook
Gunakan kesempatan mengenal EBook yuk!

Love, Audy

Sharing Kelas KeNal EBook

#kelasperempuan
#indscriptbusinesswomenuniversity 
#mentor



 

Share:

Bersusah Payah Dahulu

 



Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.



Bacaan ini juga di Kompasiana



Seperti mengejar apa aja.

Hampir beberapa bulan ini, sejak dapat hasil "nilai biru" setiap tempat vaksinasi di datangi. 

Walaupun begitu enggak semua mau di masuki. Dilihat saja dari jauh, kalau lihat antrian panjang ga jadi vaksinasi.




Kalau umur masih muda enggak masalah. Antri berjam-jam. 

Emang malas antri?

Dengan kondisi sekarang memang malas antri. Apalagi bertabrakan dengan jadwal makan. Enggak bisa sembarangan menguyah sesuatu.




Ada takaran, ada waktunya. Jadi selalu berharap ada tempat vaksin yang kosong. Kalau enggak ada masalah sudah pasti tempat vaksinasi dimanapun dijabani.

Dan lagian harus bisa vaksinasi dengan si kecil yang berumur 12 tahun.

Akhirnya kesempatan itu datang juga.

Ceritanya tuh keponakan cewek vaksinasi ke 2 dari sekolahnya. Mamanya cerita kalau mau vaksin hari minggu sore. Disuruh datang ke Grand Eastern. Oh ok. "Memang bisa langsung?" Enggak tahu juga, infonya begitu kata beliau. Ya sudah sambil mengiyakan info tersebut, sambil berharap info yang didapat benar.






Pas hari H nya, datanglah aku dan suami berkunjung ke tempat yang sudah diberitahukan. 

Ternyata! Jadwal baru esok senin dimulai jam 08.00 pagi. Sedikit kecewa. Tetapi ya sudah.

Hari kedua berarti hari senin, datang lagi pagi hari. Ternyata wah antrian panjang banget. Hampir gagal lagi. 

"Coba tanya, Pa!" Bertanya dengan petugas yang ada. Bagaimana cara untuk ikut vaksinasi.

Ternyata yang antri memakai link yang dapat dari gereja. Jadi beberapa gereja dijadikan satu. Dapat info disuruh datang pukul 14.00 siang. Ya sudah! 

Setelah zoom yang diadakan salah satu mentor di IIDB grup telegram, berangkat ke tempat vaksinasi. Duh lewat dari pukul 14.00 kekuatiran sedikit melanda.

Sesampainya di tempat vaksinasi, wahh ... sudah kosong! Bagaimana ini. Nah kalau sudah begini pepatah Malu bertanya sesat di jalan. Malu bertanya gagal vaksinasi lagi.

"Langsung saja, Pak. Ke lantai 3."  Di lantai 3 bertemu petugas yang mendata diri. 

Asyik, akhirnya bisa masuk.




Ditanya riwayat kesehatan bla..bla.. cek tensi, keluarkan surat yang nilai kesehatan berwarna biru.


Setelah disuntik menunggu di area observasi, dan melaporkan kalau sudah di vaksinasi. 
Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan surat keterangan dan jadwal selanjutnya vaksinasi ke dua. 

"Asyik banget nih surat keterangannya, Ma!" Seru suami. Karena beliau tidak mendapatkan info keterangan langsung sesudah di vaksinasi di tempat lain. Jadi hanya mendapatkan seperti sebuah buku vaksinasi.


Akhirnya ... ketakutan hari ini terlewatkan.
Pas lagi penulisan ini ada kekuatiran juga karena sedang merasa-rasa "apa yang sedang terjadi di tubuhku?"

Eits ... masih besambung ceritanya.

Ternyata!

Suami memberitahukan kalau vaksinasi ini untuk anak 12 tahun+ bisa! 

OMG

Anak bungsuku tertinggal di rumah. Enggak menyangka kalau ini bisa diperuntukkan untuk anak remaja. Kalau dilihat dari banner ditulis dari 18 tahun.

Soo dengan kekuatan yang ada kami berdua menjemput si kecil. Di Whatsapp  untuk mempersiapkan diri secepat mungkin.

Kenapa buru-buru?

Info dari panitia tutup pukul 16.00. Sedangkan di jam tangan sudah pukul 15.30. Kalaulah mobil ini bisa terbang, dalam hitungan detik sudah sampai di depan rumah menjemput si kesayangan.

Butuh waktu untuk pulang pergi 20 menit. Sesampainya di tempat vaksinansi pukul 16.20. 
Berharap semua masih ada. Ternyata "Puji Tuhan" masih bisa.




Akhirnya kesayangan papa mama bisa juga di vaksin.

Ada beberapa momen dari kesayangan yang mama abadikan. 



Cek tensi.



Persiapan di suntik. Diberi alkohol

Posisi disuntik 1


Suntikan yang diberikan. Wajah biasa aja. Good job girl









Akhirnya aku dan si bungsu sudah di vaksin,  artinya kami sekeluarga sudah di vaksinasi walaupun belum selesai ke tahap 2.

Betapa untuk memulai lebih susah dari orang lain. Mulai dari pindah domisili dari daerah panas ke tempat dingin. Adaptasi dengan cuaca ekstrem, kebiasaan makan, tidur yang berbeda.

Salam sehat. 



Love, Audy







Share:

Buletin My World

Indonesia Website Awards

Cuap-cuap Akoe - Cerita Diri

Cuap-cuap Akoe - Cerita Diri
Kehidupan pribadi yang penuh cerita, baik suka maupun duka. Rasa marah atau senang yang perlu ditulis. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Berbenah diri selalu.

Isi Email - Untuk Cerita Terbaru via Email

Klik Ikuti - Untuk Cerita Terbaru

Audy Jo

Audy Jo
Moms like to write, all about life, family and others related to life. Mentor Online Class for Women.

Ebook Audy Jo


Klik Gambar Buku untuk Beli
Pembayaran via : CC, Alfamart, GoPay, OVO

AJPena Jasa

AJPena Jasa
Buat Ebook Dan Blog