Advertisement

Main Ad

Tolong Enggak, Enggak Tolong Kompasiana

 



Tolong Enggak, Enggak Tolong



Ah ga sopan dan ga pantas mau foto orang yang lagi berbaring bergelojotan atau kejang-kejang seperti merengang nyawa.

Ceritanya bermula ketika mampir ke toko di daerah perumahan. Toko serba ada atau Mini market dengan nama yang terkenal.

Oh iya cerita tentang mini market dulu nih. Dulu ada yang kurang terkenal di daerah sini. Enggak tahu juga ceritanya bagaimana. Mini market yang lama ditolak di perumahan ini. Isu yang terdengar karena tidak ijin dengan yang ada di perumahan dan "menyalip" toko kecil yang dibuat koperasi. Aih enggak ngerti juga sih perbisnisan retail.

Akhirnya ... tutuplah "dia" diganti dengan mini market yang terkenal.

Senang juga ada toko serba ada di perumahan. 

Kenapa? 

Rumah jauh di bukit, perlu waktu untuk ke daerah " bawah" untuk berbelanja keperluan harian. Walaupun tetap harus ke toko serba ada yang lebih besar atau Supermarket untuk mendapat barang yang dibutuhkan.

Ya sudah begitu cerita tentang toko serba ada yang bikin dunia menjadi menyenangkan.

***

Tadinya malas mau turun karena sudah mandi. Kan jaman pandemi ini setiap habis keluar rumah, kembali ke rumah harus mandi bersih. Kalau enggak di protes sama Pak Boss. Lol.

"Ijin dulu Pak Boss enggak turun belanja!" Kalaupun mau turun buat  perjanjian sampai rumah enggak keramas hehehe ... dingin ....

"Ya." jawabnya sambil keluar dari mobil menuju mini market. Tiba-tiba  raut muka  berubah seperti terkaget melihat sesuatu di belakang samping kiri mobil.


Ada apa!

Menoleh dong  melihat kearah yang bikin terkaget.

Ampun! 

Ada sesosok lelaki yang tergeletak di parkiran mobil di samping kedai mie bakso depan mini market. Dikelilingi beberapa orang yang memperhatikan laki-laki yang berbaring di tanah berdebu.


"Tiba-tiba bergelojotan nih!" terdengar seruan seseorang. 

"Sakau sepertinya."

Banyak yang menduga-duga sambil memperhatikan, tanpa ada yang menolong.


"Duh bagaimana ini!" Ketakutan melanda tiba-tiba. Takut tiba-tiba diminta pertolongan suruh mengantar ke rumah sakit. 

"Munafik jadi orang!" Apa boleh buat enggak suka cari masalah apalagi dijadiin masalah.

Akhirnya meloncat keluar mobil, sambil berteriak, "ikut!"

"Kok ketakutan?" ujar Pak Bos.

"Malas kalau duduk di mobil, tiba-tiba ada yang ketuk, "tolong antar orang ini kerumah sakit, Bu! Hiiii!"

Flashback mengingat ketika masih kuliah ingin menolong orang, tapi dituduh aku dan adik-adik menabrak orang yang berbaring di jalan. Jadi sedikit tabu menolong orang yang tidak dikenal. Rasa kemanusiaan enggak ada? Enggak jugalah! Kalau menolong orang yang dikenal ada. Seperti peristiwa tetangga yang mau melahirkan butuh kendaraan untuk ke rumah sakit. Nah! sebagai supir tembak harus berpikiran jernih dan tenang, walaupun penumpang di bagian kursi belakang berteriak-teriak. Ampunnn!  Kalau ingat peritiwa ini. Merinding!

***

Sambil mulai berbelanja memperhatikan sekeliling. Kira-kira peristiwa yang tadi di depan mini market apa masih berlangsung enggak ya?

Lelaki yang tadi kolaps sudah duduk di depan toko serba ada. Walaupun sepertinya belum sadar 100%. Untung ada teman yang menemaninya.

"Cepat-cepat kabur dari sini, yuk!"

"Rasanya kok aku merasa sedih? Kalau sebagai orang tua melihat anak seperti itu. Gimana kalau orang tuanya tahu. Sedih banget pastinya." Naluri keibuan tiba-tiba berbicara melihat kesakitan yang terlukis diwajah.

Sore yang kelabu.



Love Audy


Post a Comment

0 Comments